BEKASI – Upaya mewujudkan lingkungan permukiman yang bersih, sehat, dan berkelanjutan terus dilakukan melalui kolaborasi berbasis masyarakat. Kali ini, semangat tersebut diwujudkan oleh Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Baitul Makmur bersama Pengurus RW 10 Perumahan Telaga Sakinah, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, melalui kunjungan edukasi pengolahan sampah organik ke Joglo Larva Center, Jatiasih, Kota Bekasi, pada Ahad, 1 November 2026.

Kunjungan ini menjadi langkah strategis dalam mempersiapkan pengembangan Maggot Center Baitul Makmur, sebuah inisiatif pengelolaan sampah organik secara mandiri dengan memanfaatkan teknologi biokonversi Maggot Black Soldier Fly (BSF) atau lalat tentara hitam.

Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari semangat Program EcoMasjid Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang mendorong masjid untuk mengambil peran lebih luas dalam pelestarian lingkungan, pengurangan sampah, pemberdayaan ekonomi umat, dan pembangunan kesadaran ekologis di tengah masyarakat.

Belajar Langsung Teknologi Biokonversi Maggot BSF

Dalam kunjungan edukasi tersebut, rombongan mempelajari secara langsung proses pengolahan sampah organik, khususnya sisa makanan rumah tangga (food waste), menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF).

Teknologi biokonversi maggot BSF merupakan salah satu alternatif pengolahan sampah organik yang dapat membantu mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

Sisa makanan seperti nasi, sayuran, buah-buahan, dan bahan organik tertentu dapat dimanfaatkan sebagai pakan larva BSF melalui proses pengelolaan yang tepat. Larva kemudian mengonsumsi bahan organik tersebut dan tumbuh menjadi biomassa yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak, terutama ikan dan unggas.

Selain menghasilkan biomassa maggot, proses ini juga menghasilkan residu atau bekas media budidaya yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pembenah tanah atau pupuk organik setelah melalui pengolahan dan pematangan sesuai standar.

Melalui pembelajaran ini, pengurus DKM dan RW memperoleh gambaran mengenai tahapan pemilahan sampah, persiapan pakan, pemeliharaan larva, pengendalian kelembapan, pengelolaan residu, hingga pemanfaatan hasil budidaya.

Pengetahuan tersebut menjadi bekal penting sebelum sistem pengelolaan sampah mandiri diterapkan di lingkungan Perumahan Telaga Sakinah.

Maggot Center Baitul Makmur: Masjid Menjadi Pusat Pengelolaan Sampah Masyarakat

Rencana pembentukan Maggot Center Baitul Makmur tidak sekadar menghadirkan tempat budidaya maggot, tetapi dirancang sebagai pusat pengelolaan sampah organik berbasis komunitas.

Melalui program ini, masyarakat di lingkungan RW 10 dan jemaah Masjid Baitul Makmur diharapkan dapat terlibat langsung dalam pengurangan sampah sejak dari rumah masing-masing.

Sistem yang direncanakan mencakup beberapa tahapan:

  1. Pemilahan Sampah dari Rumah: Warga dan jemaah mulai memisahkan sampah organik, khususnya sisa makanan, dari sampah anorganik dan residu.
  2. Pengumpulan Sampah Organik: Sampah organik yang telah dipilah dikumpulkan melalui mekanisme pengangkutan atau titik pengumpulan yang disepakati bersama.
  3. Pengolahan melalui Maggot BSF: Sampah organik yang memenuhi kriteria diolah menjadi pakan larva BSF dengan memperhatikan prosedur budidaya yang tepat.
  4. Pemanfaatan Hasil Biokonversi: Maggot yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ikan dan unggas, sedangkan residunya dapat diolah lebih lanjut menjadi produk pembenah tanah.
  5. Pengembangan Ekonomi Sirkular: Hasil pengolahan berpotensi memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat sekaligus mendukung kegiatan produktif masjid.

Dengan sistem tersebut, sampah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang tidak berguna, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali.

Sejalan dengan Program EcoMasjid MUI: Masjid sebagai Pusat Transformasi Ekologis

Program EcoMasjid MUI mendorong transformasi fungsi masjid agar tidak hanya menjadi pusat ibadah dan kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi pusat edukasi, pemberdayaan masyarakat, serta aksi nyata menjaga kelestarian lingkungan.

Inisiatif Maggot Center Baitul Makmur memiliki keterkaitan erat dengan semangat tersebut, terutama dalam beberapa aspek:

Pertama, pengurangan sampah dari sumbernya. Masjid menjadi penggerak perubahan perilaku masyarakat untuk memilah dan mengelola sampah sejak dari rumah, sehingga beban pengangkutan dan pembuangan sampah dapat dikurangi.

Kedua, penguatan ekonomi sirkular. Sampah organik yang sebelumnya dibuang dapat dikonversi menjadi sumber daya bernilai guna. Hasil budidaya maggot berpotensi mendukung kegiatan perikanan dan peternakan produktif di lingkungan masyarakat.

Ketiga, edukasi dan dakwah ekologis. Masjid dapat menjadi ruang pembelajaran bagi anak-anak, remaja, jemaah, dan warga untuk memahami persoalan sampah sekaligus mempraktikkan solusi pengelolaannya.

Keempat, pemberdayaan umat. Pengelolaan sampah dapat membuka peluang kegiatan produktif, membangun gotong royong, serta memperkuat kemandirian masyarakat melalui pengembangan usaha berbasis lingkungan.

Kelima, penguatan ketahanan lingkungan. Pengurangan sampah organik yang dibuang ke TPA turut mendukung upaya mengurangi pencemaran, bau tidak sedap, serta potensi pembentukan gas rumah kaca dari sampah organik yang membusuk secara tidak terkendali.

Dengan demikian, EcoMasjid tidak berhenti pada pembangunan sarana fisik yang ramah lingkungan, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat menuju kehidupan yang lebih bertanggung jawab terhadap alam.

Kolaborasi DKM dan RW, Kunci Keberhasilan Pengelolaan Sampah Mandiri

Salah satu kekuatan dari inisiatif ini adalah adanya kolaborasi antara pengurus DKM Baitul Makmur dan Pengurus RW 10 Telaga Sakinah.

Pengelolaan sampah berbasis kawasan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Masjid memiliki kekuatan dalam membangun kesadaran dan menggerakkan partisipasi jemaah, sedangkan pengurus RW memiliki peran strategis dalam mengoordinasikan warga dan membangun sistem pengelolaan di tingkat lingkungan.

Sinergi tersebut diharapkan mampu melahirkan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan, mulai dari edukasi pemilahan, pengumpulan, pengolahan, hingga pemanfaatan hasilnya.

Ke depan, Maggot Center Baitul Makmur diharapkan tidak hanya melayani kebutuhan pengelolaan sampah internal masjid, tetapi juga menjadi pusat edukasi dan percontohan bagi lingkungan permukiman lainnya.

Dari Masjid untuk Lingkungan dan Masa Depan Generasi

Kunjungan ke Joglo Larva Center menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengangkut dan membuangnya ke TPA. Diperlukan perubahan pola pengelolaan yang dimulai dari sumbernya, didukung teknologi tepat guna, dan diperkuat partisipasi masyarakat.

Melalui rencana Maggot Center Baitul Makmur, semangat EcoMasjid MUI semakin nyata dalam mendorong masjid menjadi pelopor gerakan lingkungan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Ikhtiar ini juga sejalan dengan nilai-nilai Islam yang mengajarkan manusia untuk menjaga kebersihan, menghindari perilaku berlebih-lebihan, serta tidak melakukan kerusakan di muka bumi.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-A’raf ayat 56:

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab keimanan dan amanah manusia sebagai khalifah di bumi.

Kini, langkah menuju Telaga Sakinah yang lebih bersih dan ramah lingkungan dimulai dari sebuah ikhtiar sederhana: memilah sampah dari rumah, mengolahnya di lingkungan sendiri, dan menjadikan masjid sebagai pusat gerakan kebaikan.

Dari Masjid Kita Bangkit, Bersama Umat Kita Makmur.

EcoMasjid MUI – Masjid Berdaya, Lingkungan Terjaga, Umat Sejahtera.

Leave a Comment