Oleh: Dr. Suhardin, M.Pd. (Ketua LPLH&SDA MUI)

Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah memperlihatkan peningkatan aktivitas vulkanik di Selat Sunda. Sejak Juli 2026, gunung api ini berada pada level siaga tiga dan mengalami rangkaian erupsi yang menghasilkan lontaran material serta abu vulkanik. Pada awal September 2026, aktivitasnya kembali meningkat hingga terjadi episode erupsi menerus sekitar 25 jam, yang kemudian berakhir pada 6 September 2026. Meskipun episode tersebut telah berakhir, status Siaga tetap diberlakukan dan aktivitas gunung api terus dipantau secara intensif oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Abu vulkanik sering dipahami masyarakat sebagai debu biasa. Padahal, secara ilmiah abu vulkanik merupakan material sangat halus hasil fragmentasi magma dan batuan selama proses erupsi. Ukurannya yang kecil memungkinkan abu terbawa angin hingga jauh dari pusat erupsi. Pada erupsi Anak Krakatau sebelumnya, Badan Geologi telah menjelaskan bahwa arah dan luas sebaran abu sangat dipengaruhi oleh arah dan kecepatan angin. Karena itu, kawasan yang berada jauh dari kawah pun tidak selalu terbebas dari dampak hujan abu.

Abu vulkanik dapat memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat. Jika konsentrasinya tinggi, partikel abu dapat mengganggu sistem pernapasan, mata, kulit, kendaraan, bangunan, sumber air, serta aktivitas pertanian. Abu yang menempel pada atap juga dapat menjadi masalah apabila bercampur dengan air hujan dan menambah beban atap. Karena itu, ketika terjadi hujan abu, masyarakat sebaiknya menggunakan masker yang sesuai, melindungi mata, mengurangi aktivitas di luar ruangan, serta mengikuti informasi resmi mengenai arah sebaran abu.

Anak Krakatau dan sejarah panjang Selat Sunda

Fenomena Anak Krakatau tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang Kompleks Vulkanik Krakatau. Erupsi besar tahun 1883 merupakan salah satu peristiwa vulkanik paling terkenal dalam sejarah modern dan menghasilkan tsunami. Pada 22 Desember 2018, longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau juga menyebabkan tsunami di kawasan Selat Sunda. Namun, penting untuk membedakan antara bahaya abu vulkanik saat erupsi dengan kemungkinan tsunami. Berdasarkan evaluasi Badan Geologi pada 5 September 2026, tubuh Anak Krakatau yang tumbuh kembali setelah 2018 masih relatif kecil dan belum menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.

Karena itu, masyarakat tidak perlu panik terhadap setiap kabar mengenai erupsi Anak Krakatau. Yang diperlukan adalah kewaspadaan berbasis data. Informasi mengenai tsunami, hujan abu, lontaran material, maupun perubahan status gunung api harus bersumber dari lembaga resmi, terutama PVMBG, Badan Geologi, BMKG, BNPB/BPBD, dan pemerintah daerah.

Dari abu vulkanik menuju kesadaran ekologis

Ada pelajaran ekologis yang lebih dalam dari fenomena abu vulkanik. Alam mempunyai mekanisme keseimbangannya sendiri. Gunung api adalah bagian dari dinamika bumi yang tidak dapat dikendalikan manusia. Manusia tidak dapat menghentikan magma bergerak, tidak dapat memerintah gunung untuk berhenti erupsi, dan tidak dapat mengubah arah angin. Yang dapat dilakukan manusia adalah membaca tanda-tanda alam, memahami risikonya, mengurangi kerentanan, dan membangun kemampuan beradaptasi.

Diingatkan Allah dalam surat Ali Imran ayat 190 “sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berakal”

Dalam perspektif ekologis, bencana tidak hanya ditentukan oleh kekuatan alam, tetapi juga oleh tingkat kerentanan manusia. Erupsi dengan volume material yang relatif sama dapat menghasilkan dampak berbeda tergantung pada kepadatan penduduk, kesiapsiagaan, kualitas informasi, tata ruang, kondisi lingkungan, dan kemampuan masyarakat merespons. Karena itu, mitigasi bencana sesungguhnya merupakan bagian dari pembangunan berkelanjutan.

Keguyuban Masyarakat, kedekatan pimpinan dengan Masyarakat bagian tidak terpisahkan dalam mengurangi resiko bencana. System pemerintahan yang rapi, tatakelola yang baik, pembangunan yang berkelanjutan meminamalisasi dampak bencana alam terhadap kehidupan Masyarakat. Alam beradaptasi merelaksasi diri sesuai dengan keteraturan yang telah digariskan oleh Allah SWT sebagai rabbul alamin, manusia yang ulul albab berusaha untuk memitigasi dan beradptasi dengan relaksasi alam tyersebut, agar semua selamat.   

Abu vulkanik sebagai pengingat tentang keterbatasan manusia

Abu yang jatuh ke bumi juga dapat menjadi simbol penting bagi kehidupan manusia. Ia mengingatkan bahwa manusia hidup di tengah sistem alam yang jauh lebih besar daripada dirinya. Kemajuan teknologi memang memungkinkan manusia memantau gunung api dengan seismograf, satelit, kamera, tiltmeter, dan berbagai instrumen lainnya. Namun teknologi bukan berarti manusia telah menguasai alam sepenuhnya. Teknologi justru harus digunakan untuk mengenali batas-batas kemampuan manusia dan meningkatkan ikhtiar menjaga keselamatan.

Dalam konteks keislaman, kesadaran tersebut sejalan dengan prinsip manusia sebagai khalifah di bumi. Kekhalifahan bukan berarti manusia bebas mengeksploitasi alam, melainkan memiliki amanah untuk mengelola kehidupan secara bertanggung jawab. Bencana alam semestinya tidak hanya dibaca sebagai ancaman, tetapi juga sebagai momentum untuk membangun ecological literacy—kemampuan memahami hubungan antara manusia, alam, risiko, dan keberlanjutan kehidupan, juga meningkatkan zikr kepada Allah SWT tentang kelemahan manusia dibandingkan dengan kekuasaan Allah SWT. Betapa naifnya kesombongan manusia yang merasa serba kuasa, tetapi hanya dengan sebongkah gunung kecil di selat sunda dapat menggetarkan Sebagian penduduk di muka bumi ini. Beberapa aktifitas dan mobilitas manusia terganggu hanya dengan sebuah gunung kecil, apalagi kalau Allah SWT benar menghukum kebesaran kekuasaan-Nya.

Jangan panik, tetapi jangan lengah

Pelajaran terpenting dari aktivitas Anak Krakatau adalah kewaspadaan tanpa kepanikan. Badan Geologi saat ini merekomendasikan masyarakat dan wisatawan tidak memasuki wilayah dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau, sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap lava, lontaran batu pijar, awan panas, dan hujan abu lebat. Masyarakat di wilayah pantai Banten dan Lampung diminta tetap tenang dan mengikuti arahan BPBD.

Dengan demikian, abu vulkanik Anak Krakatau bukan hanya persoalan geologi. Ia menyentuh persoalan kesehatan masyarakat, pendidikan kebencanaan, tata ruang,lingkungan hidup,komunikasi publik,dan bahkan kesadaran teologis manusia terhadap alam. Gunung api mengajarkan bahwa kehidupan selalu berada dalam dinamika. Tugas manusia bukan menaklukkan alam, melainkan membaca, menghormati, menjaga, dan beradaptasi dengannya.

Anak Krakatau mengingatkan kita, alam tidak sedang marah kepada manusia, alam sedang bekerja menurut hukum-hukumnya. Yang menjadi tanggung jawab manusia adalah memahami hukum tersebut, menjaga lingkungan, dan membangun kehidupan yang semakin siap menghadapi perubahan alam, berzikir kepada Allah SWT. Allah SWT maha kuasa memperlakukan alam dengan penuh keadilan, berpikir untuk mewujudkan manajemen disaster, dan berlaku adil serta berbuat ihsan terhadap semua ciptaan Allah SWT.  

Leave a Comment