BEKASI — Upaya menjadikan masjid sebagai pusat gerakan kepedulian terhadap lingkungan terus dikembangkan oleh Masjid Baitul Makmur Telaga Sakinah, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi. Sebagai salah satu masjid dalam program EcoMasjid MUI, Masjid Baitul Makmur tidak hanya mendorong kesadaran ekologis di lingkungan jamaah, tetapi juga mulai mengembangkan solusi nyata dalam pengelolaan sampah dari sumbernya.
Salah satu langkah tersebut diwujudkan melalui kegiatan studi banding pengelolaan sampah organik berbasis budidaya maggot bersama Forum Bank Sampah Kabupaten Bekasi pada Senin, 7 September 2026.
Dalam kegiatan tersebut, Pengurus Masjid Baitul Makmur bersama Forum Bank Sampah Kabupaten Bekasi mengunjungi Biomaggot Jatijajar, Tapos, Kota Depok, serta Kandang Maggot Telajung, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya mempelajari secara langsung penerapan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai salah satu solusi pengelolaan sampah organik.
Mengubah Sampah Menjadi Sumber Daya
Budidaya maggot BSF dinilai memiliki potensi besar dalam membantu mengurangi timbulan sampah organik, khususnya sisa makanan yang berasal dari rumah tangga, lingkungan masyarakat, maupun aktivitas di sekitar masjid.
Maggot mampu mengurai bahan organik dengan cepat sehingga sebagian sampah yang sebelumnya berpotensi berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dapat dimanfaatkan kembali dalam sebuah sistem yang lebih berkelanjutan.
Konsep tersebut sejalan dengan semangat ekonomi sirkular, yakni mengubah sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai limbah menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Setidaknya terdapat tiga manfaat utama yang menjadi perhatian dalam pengembangan budidaya maggot.
Pertama, mengurangi sampah yang masuk ke TPA.
Sampah organik, terutama sisa makanan, dapat dimanfaatkan sebagai pakan maggot sehingga volume sampah yang harus dibuang ke TPA dapat ditekan.
Kedua, membuka peluang ekonomi masyarakat.
Pengelolaan maggot tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi produktif yang membuka peluang kerja dan usaha baru bagi masyarakat.
Ketiga, menghasilkan produk turunan bernilai ekonomi.
Budidaya maggot dapat menghasilkan larva yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan ternak berprotein tinggi. Selain itu, sisa media budidayanya dapat diolah menjadi kasgot, yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
Masjid sebagai Pusat Gerakan Lingkungan
Langkah Masjid Baitul Makmur tersebut menjadi bagian penting dari semangat EcoMasjid MUI, yang mendorong masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga menjadi pusat edukasi dan aksi nyata dalam menjaga lingkungan.
Melalui pendekatan EcoMasjid, nilai-nilai keislaman tentang amanah manusia sebagai khalifah di bumi diterjemahkan ke dalam berbagai praktik ekologis yang dapat dilakukan secara nyata di lingkungan masjid dan masyarakat.
Pengelolaan sampah menjadi salah satu bentuk konkret bagaimana jamaah dapat mengubah kebiasaan sehari-hari. Sampah tidak lagi semata-mata dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi perlu dipilah, dikelola, dan dimanfaatkan kembali sesuai potensinya.
Dalam konteks ini, masjid memiliki posisi strategis. Masjid berinteraksi langsung dengan jamaah dan masyarakat sehingga dapat menjadi ruang edukasi untuk membangun budaya baru dalam memilah dan mengelola sampah sejak dari sumbernya.
Menuju Rumah Maggot Percontohan di Kabupaten Bekasi
Setelah pelaksanaan studi banding, Masjid Baitul Makmur memiliki rencana untuk mengembangkan program edukasi pemilahan sampah bagi jamaah dan masyarakat sekitar.
Tidak berhenti pada edukasi, pengurus juga merintis gagasan menjadikan Masjid Baitul Makmur sebagai Rumah Maggot percontohan di Kabupaten Bekasi.
Program tersebut diharapkan dapat menjadi model pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat yang dapat direplikasi di lingkungan lain, khususnya masjid-masjid yang ingin mengembangkan gerakan kepedulian lingkungan.
Kolaborasi antara masjid, Forum Bank Sampah Kabupaten Bekasi, masyarakat, serta berbagai pihak terkait menjadi penting agar gagasan tersebut dapat berkembang secara berkelanjutan.
Dengan demikian, masjid bukan hanya menjadi tempat untuk membangun kesalehan individual, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kesalehan ekologis dan kebermanfaatan sosial.
Semangat inilah yang terus didorong melalui Program EcoMasjid MUI: menghadirkan masjid sebagai pusat perubahan yang mampu menghubungkan nilai-nilai keislaman dengan aksi nyata untuk menjaga bumi.
Dari masjid, gerakan pemilahan sampah dapat dimulai. Dari sampah, lahir manfaat. Dan dari gerakan kecil di tingkat jamaah, dapat tumbuh ekosistem lingkungan dan ekonomi yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Masjid Baitul Makmur bersama Forum Bank Sampah Kabupaten Bekasi mengajak seluruh pihak untuk mendukung ikhtiar tersebut, sehingga pengelolaan sampah tidak berhenti sebagai wacana, tetapi menjadi gerakan bersama yang nyata dan berkelanjutan.
