JAKARTA — Dakwah di tengah masyarakat perkotaan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Keragaman karakter masyarakat, perubahan pola komunikasi, perkembangan ruang digital, hingga munculnya berbagai komunitas berbasis profesi, hobi, generasi, dan kepentingan sosial menuntut para dai untuk tidak hanya mampu menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga memahami realitas kehidupan masyarakat.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Up Grading Dai Komunitas yang diselenggarakan Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta, Ahad, 27 September 2026, di Aula Juanda Lantai 5, Gedung Dakwah PW Muhammadiyah DKI Jakarta, Jalan Kramat Raya No. 49, Jakarta Pusat.
Mengangkat tema “Metodologi Dakwah Komunitas, Problematika dan Solusi Dakwah Komunitas”, kegiatan ini menjadi ruang penguatan kapasitas sekaligus konsolidasi para dai agar mampu mengembangkan pendekatan dakwah yang lebih kontekstual, komunikatif, dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.
Salah satu narasumber yang dihadirkan adalah Dr. Suhardin, S.Ag., M.Pd., Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (LPLH SDA MUI). Dalam kesempatan tersebut, Dr. Suhardin, S.Ag., M.Pd. memberikan penguatan mengenai metodologi dakwah komunitas, berbagai persoalan yang dihadapi dai di tengah masyarakat urban, serta strategi membangun dakwah yang mampu menjawab kebutuhan nyata komunitas.
Dakwah Dimulai dari Kehadiran
Dalam pemaparannya, Dr. Suhardin, S.Ag., M.Pd. menegaskan bahwa dakwah komunitas tidak dapat dibangun hanya melalui pola komunikasi satu arah. Seorang dai harus terlebih dahulu hadir, menjumpai, mendengarkan, dan memahami masyarakat yang menjadi ruang dakwahnya.
“Dakwah komunitas bukan sekadar berbicara kepada komunitas, tetapi hadir bersama komunitas. Dai harus mampu menjumpai, mendengarkan, dan memahami sebelum mengajak masyarakat bergerak menuju perubahan.”
Menurut Dr. Suhardin, S.Ag., M.Pd., kehadiran seorang dai di tengah komunitas merupakan fondasi penting untuk membangun kepercayaan. Tanpa adanya kedekatan dan pemahaman terhadap persoalan masyarakat, pesan dakwah berpotensi berhenti sebagai wacana dan tidak berkembang menjadi gerakan perubahan.
Karena itu, dakwah komunitas perlu bergerak dari pola “datang untuk berbicara” menuju “hadir untuk memahami dan mendampingi.”
Dari Menjumpai hingga Memperluas Gerakan
Dr. Suhardin, S.Ag., M.Pd. memperkenalkan pendekatan “10 M” sebagai salah satu kerangka pengembangan dakwah komunitas, yaitu:
Menjumpai, Mendengarkan, Memahami, Membangun Kepercayaan, Mendampingi, Melayani, Memberdayakan, Mengader, Memandirikan, dan Memperluas Gerakan.
Kesepuluh tahapan tersebut menggambarkan proses dakwah yang tidak berhenti pada penyampaian pesan keagamaan, tetapi berkembang menjadi proses pendampingan dan pemberdayaan.
Dalam pendekatan ini, masyarakat tidak ditempatkan semata-mata sebagai objek dakwah. Sebaliknya, komunitas diposisikan sebagai subjek perubahan yang memiliki potensi, pengalaman, kebutuhan, dan kemampuan untuk mengembangkan kehidupan sosialnya secara mandiri.
Dengan demikian, dai tidak hanya berperan sebagai penyampai pesan, tetapi juga sebagai sahabat, pendamping, fasilitator, pelayan, dan penggerak komunitas.
Tantangan Dakwah di Tengah Masyarakat Urban
Menurut Dr. Suhardin, S.Ag., M.Pd., karakter masyarakat perkotaan seperti Jakarta memiliki dinamika tersendiri. Individualisme, kesenjangan sosial, perubahan gaya hidup, derasnya arus informasi digital, perubahan karakter generasi muda, serta berkembangnya komunitas-komunitas baru merupakan sejumlah tantangan yang perlu dibaca secara cermat oleh para dai.
Kondisi tersebut membuat kompetensi seorang dai tidak cukup hanya bertumpu pada kemampuan menyampaikan materi keagamaan. Dai juga membutuhkan kompetensi sosial, komunikasi, pemetaan komunitas, kemampuan membangun jejaring, serta kecakapan membaca perubahan sosial.
Dakwah yang efektif adalah dakwah yang mampu menemukan titik temu antara nilai-nilai keislaman dengan persoalan konkret yang dihadapi masyarakat.
Karena itu, pendekatan dakwah komunitas dapat dikembangkan melalui berbagai bentuk, antara lain dakwah kehadiran, dakwah persahabatan, dakwah keteladanan, dakwah pelayanan, dakwah pemberdayaan, dakwah berbasis hobi, dakwah pemulihan, dakwah kader lokal, dakwah digital, dan dakwah kolaboratif.
Mengukur Keberhasilan Dakwah dari Perubahan
Lebih jauh, Dr. Suhardin, S.Ag., M.Pd. menekankan bahwa keberhasilan dakwah tidak semestinya hanya diukur dari banyaknya kegiatan ceramah atau jumlah peserta yang hadir dalam sebuah acara.
Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana dakwah mampu membangun kepercayaan, menghadirkan perubahan perilaku, melahirkan kader lokal, meningkatkan kemandirian komunitas, dan menumbuhkan gerakan kebajikan yang berkelanjutan.
Dalam perspektif tersebut, dakwah bukan sekadar aktivitas menyampaikan pesan, melainkan sebuah proses sosial yang membutuhkan waktu, kesabaran, konsistensi, dan keterlibatan langsung bersama masyarakat.
Dakwah, menurut Dr. Suhardin, S.Ag., M.Pd., harus mampu melahirkan komunitas yang semakin berdaya dan mandiri. Ketika masyarakat mulai mampu bergerak, mengembangkan potensi, dan menyelesaikan persoalannya bersama-sama, dakwah menemukan bentuk transformasinya dalam kehidupan sosial.
Memperkuat Dakwah Muhammadiyah di Jakarta
Kegiatan Up Grading Dai Komunitas menjadi bagian dari ikhtiar LDK PW Muhammadiyah DKI Jakarta untuk memperkuat kapasitas para dai dalam menghadapi dinamika masyarakat urban.
Melalui kegiatan ini, para dai diharapkan mampu melakukan pemetaan komunitas, mengenali persoalan aktual, menentukan pendekatan komunikasi yang sesuai, serta merancang program dakwah yang tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga memberikan pelayanan dan pemberdayaan.
Kegiatan tersebut juga menjadi ruang konsolidasi untuk membangun model dakwah yang lebih adaptif terhadap perkembangan masyarakat Jakarta.
Dakwah diharapkan tidak berhenti pada mimbar dan ruang-ruang pengajian, tetapi mampu hadir di tengah kehidupan masyarakat—di lingkungan sosial, komunitas profesi, kelompok hobi, ruang digital, generasi muda, maupun berbagai kelompok masyarakat yang membutuhkan pendampingan.
Dengan semangat tersebut, dakwah komunitas diarahkan menjadi gerakan yang hadir, bersahabat, melayani, memberdayakan, dan menggerakkan.
Bukan sekadar bagaimana masyarakat mendengar pesan dakwah, tetapi bagaimana pesan tersebut hadir dalam kehidupan nyata dan mendorong lahirnya perubahan yang berkelanjutan.
Kegiatan Up Grading Dai Komunitas diselenggarakan oleh Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta. Dalam kepengurusan LDK PW Muhammadiyah DKI Jakarta, Ir. Satriawan Tanjung tercatat sebagai Ketua dan Heri B. Jauhari, S.Kom., M.Pd. sebagai Sekretaris.
LPLH SDA MUI
lplhsda.mui.or.id
