LPLH SDA MUI_1 Oktober 2026 — Gerakan kepedulian lingkungan berbasis nilai-nilai Islam terus berkembang di berbagai lembaga pendidikan. Semangat tersebut terlihat dalam kegiatan Edukasi dan Sosialisasi Bank Sampah serta Gerakan Sedekah Sampah Indonesia (GRADASI) di Pondok Pesantren Daarul Fikri, Telagamurni, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Kamis (1/10/2026).

Kegiatan yang diikuti para santri SMP IT dan SMA Unggulan Daarul Fikri ini menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya pengelolaan sampah dan kelestarian lingkungan.

Momentum tersebut juga sejalan dengan semangat Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (LPLH SDA MUI) dalam mengembangkan gerakan EcoMasjid MUI, yaitu mendorong masjid dan lembaga pendidikan Islam menjadi pusat keteladanan, edukasi, serta aksi nyata dalam menjaga lingkungan.

Mengubah Sampah Menjadi Sumber Manfaat

Dalam kegiatan tersebut, para santri mendapatkan edukasi mengenai pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Salah satu materi yang menjadi perhatian adalah food waste atau sampah organik sisa makanan yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari di lingkungan pesantren.

Sampah organik, apabila tidak dikelola dengan baik, dapat menimbulkan persoalan lingkungan. Sebaliknya, dengan pengelolaan yang tepat, sisa makanan dapat dimanfaatkan menjadi kompos dan berbagai bentuk produk bernilai guna.

Materi disampaikan oleh Muhammad Suhapli, Ketua Forum Bank Sampah Kabupaten Bekasi sekaligus Ketua DKM Baitul Makmur Telaga Sakinah.

Melalui pendekatan edukasi dan praktik, para santri diajak memahami bahwa persoalan sampah bukan hanya persoalan kebersihan, tetapi juga berkaitan dengan perilaku, kesehatan lingkungan, tanggung jawab sosial, dan keberlanjutan kehidupan.

Gerakan Sedekah Sampah di Lingkungan Pesantren

Salah satu momen penting dalam kegiatan tersebut adalah penyerahan secara simbolis satu unit Kotak Sedekah Sampah persembahan dari TKN PSL kepada Pondok Pesantren Daarul Fikri.

Fasilitas tersebut diharapkan menjadi sarana bagi para santri untuk mengumpulkan sampah anorganik yang masih memiliki nilai jual. Sampah yang terkumpul kemudian dapat dikelola melalui mekanisme bank sampah sehingga memiliki nilai ekonomi sekaligus dapat diarahkan untuk mendukung kegiatan sosial dan pendidikan pesantren.

Konsep sedekah sampah menghadirkan perspektif baru dalam pengelolaan lingkungan. Sampah yang selama ini identik dengan sesuatu yang harus dibuang dapat diubah menjadi sumber manfaat.

Dengan demikian, aktivitas memilah sampah tidak hanya menjadi kebiasaan menjaga kebersihan, tetapi juga menjadi bagian dari pembelajaran tentang kepedulian sosial dan amal yang memberikan manfaat bagi orang lain.

EcoMasjid MUI: Dari Masjid untuk Gerakan Lingkungan

Gerakan pengelolaan lingkungan di pesantren memiliki keterkaitan erat dengan semangat EcoMasjid MUI yang dikembangkan LPLH SDA MUI.

Melalui konsep EcoMasjid, masjid didorong untuk menjadi pusat perubahan perilaku masyarakat dalam berbagai aspek lingkungan, mulai dari pengelolaan sampah, penghematan air, penghijauan, pemanfaatan energi, ketahanan pangan, hingga pendidikan lingkungan.

Semangat tersebut tidak berhenti di lingkungan masjid. Nilai dan praktik baiknya dapat dikembangkan di sekolah, pesantren, keluarga, serta komunitas masyarakat.

Dalam konteks Pondok Pesantren Daarul Fikri, edukasi bank sampah dan gerakan sedekah sampah menjadi langkah konkret untuk membangun lingkungan pendidikan yang memiliki kesadaran ekologis berbasis nilai-nilai Islam.

Pesantren memiliki posisi strategis dalam proses tersebut karena santri dapat menjadi agen perubahan yang membawa kebiasaan baik dari lingkungan pesantren ke keluarga dan masyarakat.

Membangun Generasi Santri Peduli Lingkungan

Penguatan pendidikan lingkungan di pesantren bukan sekadar mengajarkan cara membuang sampah pada tempatnya. Lebih jauh, pendidikan tersebut diarahkan untuk membentuk karakter dan perilaku ekologis.

Santri perlu memahami hubungan antara perilaku manusia dengan kondisi lingkungan. Kebiasaan mengurangi sampah, memilah sampah, mengolah sampah organik, menggunakan kembali barang yang masih layak, serta melakukan sedekah sampah merupakan praktik sederhana yang dapat memberikan dampak lebih luas apabila dilakukan secara konsisten.

Karena itu, gerakan Eco-Pesantren dapat menjadi salah satu pengembangan dari semangat EcoMasjid MUI, dengan menjadikan lembaga pendidikan Islam sebagai ruang pembentukan generasi yang memiliki kepedulian terhadap bumi.

Dari Daarul Fikri untuk Gerakan Lingkungan yang Lebih Luas

Kegiatan di Pondok Pesantren Daarul Fikri menunjukkan bahwa gerakan lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana dan dilakukan secara bersama-sama.

Bank sampah, pengelolaan food waste, sedekah sampah, dan edukasi santri merupakan rangkaian kegiatan yang apabila dilakukan secara berkelanjutan dapat membentuk budaya baru di lingkungan pesantren.

Semangat inilah yang menjadi bagian penting dari gerakan lingkungan yang dikembangkan LPLH SDA MUI melalui EcoMasjid MUI: menjadikan nilai-nilai keislaman tidak hanya dipahami dalam bentuk pengetahuan, tetapi diwujudkan dalam perilaku nyata untuk menjaga lingkungan dan kemaslahatan bersama.

Dari pesantren, gerakan itu dapat tumbuh. Dari para santri, kesadaran itu dapat menyebar. Dan dari sampah yang dikelola, manfaat serta keberkahan dapat terus mengalir.

Bersih lingkungannya, sehat pesantrennya, peduli santrinya, dan berkah gerakannya.

EcoMasjid MUI — Pejuang Lingkungan.

Leave a Comment