Oleh: Dr. Suhardin, S.Ag., M.Pd.
Berita hilangnya lima jurnalis bersama tiga awak kapal di perairan Selat Sunda ketika melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau membawa pikiran saya jauh ke masa kecil. Pada 7 September 2026, rombongan tersebut berangkat menggunakan kapal cepat dari kawasan Carita untuk melakukan tugas jurnalistik di sekitar Gunung Anak Krakatau. Setelah komunikasi terputus, operasi pencarian besar-besaran dilakukan. Hingga 16 September, pencarian telah memasuki hari kesembilan, melibatkan banyak unsur SAR dan membagi wilayah pencarian ke dalam delapan sektor dengan luas sekitar 3.439 mil laut persegi.
Bagi sebagian orang, berita itu mungkin merupakan tragedi kemanusiaan yang mereka ikuti melalui media. Tetapi bagi saya, berita tentang manusia yang hilang di laut membangkitkan kembali sebuah memori keluarga yang telah tersimpan hampir setengah abad.
Kenangan dari Pantai Batahan
Sekitar tahun 1977, ketika saya masih berusia kurang lebih empat tahun, keluarga kami mengalami peristiwa yang hingga hari ini tidak pernah memperoleh jawaban secara fisik. Adik ayah saya—paman saya—mengalami kecelakaan laut di kawasan pantai Batahan, Mandailing Natal, Sumatera Utara.
Pada masa itu beliau bekerja sebagai kontraktor pembangunan sekolah-sekolah SD Inpres. Dalam sebuah perjalanan dari kawasan Natal menuju Batahan menggunakan speedboat, kapal yang ditumpanginya mengalami musibah di laut. Beberapa orang yang berada dalam perjalanan tersebut kemudian dapat ditemukan. Namun paman saya tidak.
Pencarian dilakukan berhari-hari.
Keluarga menunggu.
Laut dicari dan disisir.
Tetapi paman saya tidak pernah kembali. Bahkan jasadnya pun tidak pernah ditemukan sampai hari ini.
Saya masih sangat kecil ketika peristiwa itu terjadi. Namun suatu kehilangan besar dalam keluarga mempunyai kemampuan yang unik untuk hidup melampaui generasi. Anak kecil mungkin belum memahami arti kematian, tetapi cerita tentang seseorang yang pergi ke laut dan tidak pernah kembali akan terus diceritakan dari satu anggota keluarga kepada anggota keluarga lainnya.
Kini, hampir lima puluh tahun kemudian, ketika saya membaca berita tentang lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang di Selat Sunda, ingatan saya kembali kepada paman.
Mengapa laut terkadang tidak mengembalikan mereka yang masuk ke dalamnya?
Laut Bukan Ruang yang Diam
Pertanyaan itu dahulu mudah dijawab dengan mitos. Dalam masyarakat pesisir, hilangnya seseorang tanpa ditemukan jasadnya sering melahirkan berbagai cerita. Ada yang menghubungkannya dengan kekuatan gaib, penguasa laut, dunia lain, atau berbagai penjelasan metafisik.
Saya dapat memahami mengapa cerita semacam itu lahir.
Ketika ilmu pengetahuan tidak mampu segera memberikan jawaban dan keluarga tidak memperoleh jasad untuk dimakamkan, manusia membutuhkan penjelasan untuk menutup ruang ketidakpastian. Mitos kemudian menjadi salah satu cara kebudayaan memberikan makna terhadap sesuatu yang belum dapat dijelaskan.
Namun perkembangan ilmu kelautan memberikan perspektif lain.
Laut bukan kolam besar yang airnya diam. Laut merupakan sistem dinamis yang terus bergerak. Arus, pasang-surut, gelombang, angin, kedalaman, topografi dasar laut dan kondisi cuaca bekerja secara bersamaan. Sebuah benda atau manusia yang masuk ke laut tidak selalu berada di tempat ia pertama kali tenggelam.
Kita dapat melihat prinsip itu dalam pencarian di Selat Sunda sekarang. Tim SAR tidak hanya mencari pada satu titik. Luas pencarian disesuaikan berdasarkan pemodelan dinamika arah dan kecepatan arus. Bahkan jangkauan informasi pencarian telah diperluas sampai pesisir Bengkulu dan Pulau Enggano.
Di sinilah saya mulai memperoleh cara baru memahami apa yang mungkin terjadi terhadap paman saya pada tahun 1977.
Jika dengan teknologi tahun 2026—GPS, kapal SAR modern, helikopter, drone, komunikasi digital dan pemodelan arus—manusia masih menghadapi kesulitan luar biasa menemukan orang dan kapal yang hilang di laut, betapa terbatasnya kemampuan pencarian di kawasan pantai barat Sumatera hampir setengah abad yang lalu.
Tidak Ditemukan Bukan Berarti Laut Menyimpan Misteri Gaib
Ada kecenderungan manusia menganggap bahwa tubuh orang yang tenggelam pasti akan mengapung kembali. Kenyataannya tidak sesederhana itu.
Tubuh dapat tenggelam, bergerak mengikuti arus bawah laut, tersangkut pada struktur dasar, atau kemudian berpindah setelah mengalami perubahan daya apung. Dalam jangka yang lebih panjang, dekomposisi dan aktivitas organisme laut semakin memperkecil kemungkinan tubuh ditemukan dalam keadaan yang dapat dikenali.
Karena itu, hilangnya seseorang di laut tanpa pernah ditemukan tidak dengan sendirinya membutuhkan penjelasan supranatural.
Pengalaman pencarian lima jurnalis dan tiga awak kapal di Selat Sunda memperlihatkan betapa rumitnya persoalan tersebut. Pada beberapa hari pencarian ditemukan helm, jeriken dan jaket pelampung yang semula menimbulkan dugaan berkaitan dengan kapal mereka. Setelah diperiksa, sejumlah benda itu ternyata dinyatakan bukan milik KM Arupadhatu I.
Laut menyimpan jutaan benda. Arus memindahkannya. Gelombang mempertemukannya. Karena itu, setiap temuan harus diverifikasi secara ilmiah sebelum disimpulkan berkaitan dengan korban.
Ini sekaligus memberikan pelajaran penting bagi masyarakat agar tidak terlalu cepat membangun cerita mengenai orang-orang yang belum ditemukan.
Antara Selat Sunda 2026 dan Batahan 1977
Ada jarak hampir setengah abad antara peristiwa yang menimpa paman saya dengan hilangnya rombongan jurnalis di Selat Sunda. Teknologinya berbeda, lokasinya berbeda, manusianya berbeda dan tentu kita tidak boleh menyamakan kedua peristiwa tersebut.
Namun keduanya memperlihatkan satu kenyataan yang sama: betapa kecilnya manusia ketika berhadapan dengan keluasan dan dinamika laut.
Di Selat Sunda, lima jurnalis itu pergi karena menjalankan profesinya. Mereka ingin menghadirkan informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau kepada masyarakat. Bersama mereka terdapat tiga orang awak kapal yang menjalankan pekerjaannya. Hingga tulisan ini dibuat, mereka masih dicari. Karena itu, harapan dan doa untuk keselamatan mereka tidak boleh dihentikan.
Operasi pencarian pun terus dilakukan. Basarnas menyatakan penyelaman belum dapat dilakukan sembarangan karena diperlukan koordinat yang terkonfirmasi mengenai keberadaan objek atau target.
Paman saya dahulu juga pergi karena pekerjaan. Ia menjadi bagian dari pembangunan sekolah SD Inpres pada masa ketika Indonesia sedang memperluas akses pendidikan dasar. Ia menyeberangi laut bukan untuk bertamasya, tetapi menjalankan tanggung jawab pekerjaannya.
Maka di antara dua peristiwa tersebut saya menemukan satu benang kemanusiaan: orang-orang ini berangkat untuk bekerja, sementara keluarga menunggu mereka pulang.
Ketidakpastian Adalah Penderitaan Tersendiri
Ada perbedaan psikologis antara kematian yang disaksikan dan kehilangan tanpa kepastian.
Ketika seseorang meninggal dan jenazahnya berada di hadapan keluarga, betapapun menyakitkan, keluarga mempunyai titik untuk memulai proses perpisahan. Jenazah dimandikan, disalatkan, dikuburkan dan didoakan.
Tetapi ketika seseorang pergi dan tidak kembali, sementara tubuhnya tidak ditemukan, keluarga hidup di antara dua ruang: harapan dan kehilangan.
Apakah ia masih hidup?
Di manakah ia?
Apa yang terjadi pada detik-detik terakhirnya?
Pertanyaan seperti itu dapat bertahan puluhan tahun.
Saya kira keluarga paman saya pernah menjalani ruang psikologis seperti itu. Dan hari ini saya dapat membayangkan betapa beratnya apa yang sedang dialami keluarga lima jurnalis dan tiga awak kapal tersebut.
Karena itulah masyarakat seharusnya tidak menambah beban keluarga dengan spekulasi, ramalan atau cerita-cerita yang tidak terverifikasi. Dalam situasi seperti ini, informasi resmi dari tim SAR jauh lebih bermartabat daripada sensasi.
Laut dalam Perspektif Teologis
Sebagai seorang Muslim, saya tidak ingin berhenti pada penjelasan oseanografi.
Ilmu pengetahuan membantu kita menjelaskan bagaimana sesuatu mungkin terjadi. Tetapi iman membantu manusia menjawab bagaimana ia harus menempatkan dirinya ketika pengetahuan mencapai batasnya.
Al-Qur’an menyatakan:
وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ … وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا
“Dan di sisi-Nya kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia … dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya.”
(QS. Al-An‘ām: 59)
Ayat ini memberikan ketenteraman teologis yang sangat dalam bagi saya.
Selama hampir lima puluh tahun keluarga kami tidak mengetahui di mana tubuh paman saya berada. Laut Batahan mungkin telah membawanya jauh dari tempat kecelakaan. Arus Samudra Hindia mungkin telah memindahkannya. Kita tidak pernah memperoleh kepastian.
Tetapi kemudian saya sampai pada satu kesadaran:
Paman saya mungkin hilang dari pandangan manusia, tetapi tidak pernah hilang dari pengetahuan Allah.
Begitu pula orang-orang yang saat ini sedang dicari di Selat Sunda. Kita belum mengetahui di mana mereka berada dan bagaimana keadaan mereka. Karena operasi SAR masih berlangsung, kewajiban kemanusiaan kita adalah terus berharap mereka ditemukan dan mendukung upaya pencarian.
Sains, Doa, dan Kerendahan Hati
Peristiwa ini akhirnya mengajarkan saya bahwa sains dan teologi tidak harus dipertentangkan.
Sains mengatakan: pelajari arusnya, hitung gelombangnya, petakan anginnya, telusuri jejak komunikasinya, gunakan kapal, radar, drone dan teknologi terbaik untuk mencari manusia yang hilang.
Agama mengatakan: jangan putus asa, teruslah berikhtiar, berdoalah, dan sadarilah bahwa pengetahuan manusia mempunyai batas.
Di antara keduanya terdapat kerendahan hati.
Manusia boleh mempunyai teknologi canggih, tetapi laut mengingatkan bahwa alam jauh lebih besar daripada kemampuan kita mengendalikannya. Sebaliknya, keterbatasan ilmu tidak boleh membuat kita segera melompat kepada mitos dan mengabaikan ikhtiar rasional.
Kita membutuhkan keduanya: akal yang terus mencari dan hati yang terus berdoa.
Hari ini Selat Sunda mengingatkan saya kepada Pantai Batahan hampir lima puluh tahun silam. Lima jurnalis dan tiga awak kapal yang sedang dicari mengingatkan saya kepada seorang paman yang berangkat bekerja dan tidak pernah kembali kepada keluarganya.
Ada masa ketika saya bertanya: Ke manakah paman saya pergi? Mengapa laut tidak mengembalikannya?
Sekarang saya memahami pertanyaan itu dengan cara berbeda.
Secara saintifik, laut mempunyai mekanisme alamiah yang memungkinkan manusia yang tenggelam berpindah jauh dan tidak pernah ditemukan. Secara teologis, saya memperoleh jawaban yang jauh lebih menenteramkan:
Tidak ada manusia yang benar-benar hilang di hadapan Allah.
Laut boleh menyembunyikan jejak dari mata kita. Arus boleh membawa tubuh melampaui batas pencarian manusia. Waktu bahkan boleh berlalu hampir setengah abad.
Tetapi tidak satu pun kehidupan, perjuangan, keringat, doa, dan perjalanan manusia yang terhapus dari pengetahuan-Nya.
Maka kepada keluarga para jurnalis dan awak kapal yang sekarang menunggu di rumah, kita titipkan harapan: semoga Allah menjaga mereka, semoga ikhtiar tim SAR menemukan titik terang, dan semoga keluarga diberikan kekuatan dalam menghadapi ketidakpastian.
Dan kepada paman saya yang hilang di perairan Batahan hampir lima puluh tahun silam, saya akhirnya dapat mengatakan dalam hati:
“Kami memang tidak pernah menemukanmu kembali. Tetapi kami percaya, engkau tidak pernah hilang dari pengetahuan Allah.”
Wallāhu a‘lam bi al-ṣawāb.
