Oleh: Dr. Suhardin, S. Ag., M. Pd.

Ada pertanyaan yang patut kita ajukan kepada pendidikan agama hari ini: mengapa seseorang dapat memahami ayat tentang kerusakan di bumi, tetapi belum merasa bertanggung jawab terhadap sampah yang dibuangnya? Mengapa pesan tentang syukur begitu sering diajarkan, sementara makanan masih mudah disisakan dan air dibiarkan mengocor? Pertanyaan ini mengajak kita memeriksa hubungan antara pengetahuan agama dan kehidupan. Sebab, ukuran keberhasilan Pendidikan Agama Islam seharusnya juga terlihat dalam cara manusia menggunakan nikmat, memperlakukan sesama, dan menjaga lingkungan yang menopang kehidupannya.

Di ruang kelas, peserta didik mempelajari iman, ibadah, dan akhlak. Di luar kelas, mereka berhadapan dengan keran bocor, makanan terbuang, sampah menumpuk, serta tanaman yang tidak terawat. Dua ruang pengalaman itu perlu dipertemukan. Jika pelajaran agama terasa jauh dari persoalan yang mereka lihat setiap hari, peserta didik dapat terbiasa memahami agama sebagai pengetahuan yang diperlukan untuk menjawab soal. Padahal, kehidupan meminta lebih banyak: kemampuan menimbang, kepekaan terhadap akibat, dan kesediaan menjalankan tanggung jawab meskipun tidak sedang diawasi.

Pendidikan Agama Islam berbasis ekologis, atau Eco-PAI, dikembangkan untuk memperkuat hubungan tersebut. Model intinya dapat dirumuskan melalui alur sederhana: tauhid|kesadaran| ekologis|pengetahuan|refleksi|akhlakekologis|aksi|pembiasaan|transformasi. Alur ini menjadi arah bagi kurikulum dan pembelajaran. Dalam pelaksanaannya, setiap tahap saling menguatkan. Pengalaman melakukan aksi dapat memperdalam pengetahuan; refleksi dapat memperbaiki kebiasaan; dan keterlibatan merawat kehidupan dapat memperkaya penghayatan iman. Pendidikan bergerak melalui proses yang terus dipelajari, bukan melalui urutan yang kaku.

Tauhid menjadi fondasinya. Pengakuan kepada Allah sebagai Rabb al-‘ālamīn menumbuhkan kesadaran bahwa manusia hidup di tengah ciptaan yang saling berhubungan. Air, tanah, tumbuhan, hewan, dan udara merupakan bagian dari kehidupan yang memungkinkan kita bertahan. Kemampuan mengambil manfaat membawa amanah untuk mempertimbangkan akibat. Dalam kurikulum PAI, pembelajaran akidah perlu membantu peserta didik menghubungkan keyakinan dengan cara menggunakan nikmat. Ada tanggung jawab yang mengikuti pengakuan kepada Sang Pencipta:rasa syukur perlu menemukan bentuk dalam pemeliharaan, pengendalian diri, dan penghargaan terhadap kehidupan.

Dari tauhid tumbuh kesadaran ekologis, yaitu kemampuan melihat hubungan yang sering luput dari perhatian. Sepiring nasi mempunyai perjalanan panjang sebelum sampai ke meja. Ada tanah, air, tenaga petani, pengangkutan, perdagangan, dan pekerjaan memasak. Sampah yang meninggalkan rumah juga mempunyai perjalanan. Ada petugas yang mengangkatnya, tempat yang menerimanya, serta warga yang mungkin menghadapi dampaknya. Pembelajaran kontekstual membuka hubungan ini melalui pengalaman yang dekat. Guru mengajak peserta didik melihat kantin, tempat wudu, halaman, dan kehidupan masyarakat sebagai ruang untuk memahami syukur, amanah, serta keadilan.

Kesadaran perlu didukung pengetahuan agar kepedulian mempunyai arah yang tepat. Peserta didik perlu mengetahui mengapa air terbuang, bagaimana sampah ditangani, dan apa yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh. Mereka juga belajar memeriksa informasi sebelum menyimpulkan. Kurikulum Eco-PAI mempertemukan dasar ajaran dengan pengetahuan lingkungan melalui kolaborasi. PAI memberikan pertimbangan nilai; IPA membantu menjelaskan proses; matematika mendukung pengukuran; bahasa membantu penyampaian gagasan. Melalui inquiry dan discovery yang dibimbing, anak belajar bertanya, mengamati, mencari bukti, dan mengakui ketika pengetahuannya belum cukup untuk memberikan jawaban.

Pengetahuan kemudian perlu diolah melalui refleksi. Pada tahap ini, guru memberi ruang agar pengalaman menyentuh pikiran dan qalbu. Siapa yang menanggung akibat dari kebiasaan kita? Apakah kemudahan yang kita nikmati menambah kesulitan orang lain? Apa makna syukur setelah mengetahui pekerjaan di balik makanan? Refleksi dapat berlangsung melalui percakapan, tulisan, atau perenungan singkat. Peserta didik tidak dipaksa menghasilkan perasaan yang sama. Guru membimbing alasan dan pemahaman, sambil menghormati pengalaman batin. Dari sini, persoalan lingkungan mulai dibaca sebagai tanggung jawab yang mempunyai hubungan dengan diri sendiri.

Refleksi yang dipelihara membantu nilai berkembang menjadi akhlak ekologis. Amanah hadir ketika fasilitas dirawat. Pengendalian diri terlihat ketika makanan diambil sesuai kebutuhan. Rahmah tumbuh melalui perlakuan baik terhadap makhluk hidup. Keadilan berkembang ketika peserta didik memperhatikan pihak yang menanggung beban. Kurikulum perlu menerjemahkan nilai tersebut ke dalam tujuan pembelajaran yang jelas, selaras dengan capaian resmi yang digunakan. Anak diharapkan mampu menjelaskan alasan, menimbang pilihan, dan bekerja bersama. Perkembangannya dibaca melalui proses, dengan memahami usia, kemampuan, serta dukungan yang tersedia.

Akhlak memperoleh pengalaman-pengamalan melalui aksi. Problem-based learning dapat digunakan untuk memahami penyebab makanan tersisa dan menyusun pilihan perbaikan. Project-based learning memberi ruang bagi pekerjaan berkelanjutan, seperti perawatan kebun atau pengembangan kebiasaan penggunaan air. Experiential learning membantu peserta didik mengolah pengalaman menjadi pemahaman, sedangkan service learning mempertemukan tujuan belajar dengan pelayanan yang dibutuhkan masyarakat. Model dipilih karena membantu tujuan, bukan karena sedang populer. Kegiatan harus aman, sesuai usia, dan mempunyai pembagian peran. Peserta didik tidak mengambil alih pekerjaan teknis yang menjadi tanggung jawab orang dewasa.

Aksi membutuhkan pembiasaan agar pengaruhnya bertahan. Keran ditutup setiap kali selesai digunakan, tanaman dirawat setelah acara penanaman, dan barang dijaga sepanjang masa pakainya. Pada tahap ini, fasilitas serta budaya sekolah sangat menentukan. Ajakan memilah sampah membutuhkan alur penanganan. Nasihat hemat air memerlukan keran yang dapat ditutup dengan baik. Jika dukungan tidak tersedia, anak menghadapi kesenjangan antara anjuran dan kenyataan. Karena itu, Eco-PAI juga menyangkut pengelolaan lembaga. Guru memberi teladan, pengelola memelihara, petugas dilibatkan, dan peserta didik berlatih menjalankan tanggung jawab sesuai kemampuannya.

Dari pembiasaan yang disertai evaluasi, transformasi dapat berkembang. Perubahan terlihat dalam cara berpikir, kebiasaan, dan keputusan bersama. Sekolah mulai mempertimbangkan pemeliharaan sebelum membuat program, meninjau pemborosan dalam pengadaan, dan mendengar pihak yang terdampak. Peserta didik semakin mampu menyampaikan alasan serta usulan. Guru memperbaiki pembelajaran berdasarkan pengalaman. Transformasi dapat dimulai dari satu persoalan yang ditangani dengan sungguh-sungguh. Ukurannya adalah manfaat yang dapat dikenali dan proses yang dapat dipertahankan. Kemampuan memperbaiki tindakan menjadi bagian penting dari hasil pendidikan.

Kerangka ini dapat dikembangkan dalam seluruh unsur PAI. Al-Qur’an-Hadis memberikan sumber dan makna pesan tentang kehidupan. Akidah menumbuhkan penghayatan amanah. Akhlak membina tanggung jawab dan pengendalian diri. Fikih membantu membahas hak, penggunaan sumber daya, serta pencegahan mudarat. Sejarah membuka ruang mempelajari pengalaman pengelolaan masyarakat. Integrasi dilakukan melalui hubungan yang relevan, bukan menyisipkan isu lingkungan secara paksa. Strateginya bertahap, kontekstual, kolaboratif, dan reflektif. Pengetahuan lokal dapat dipelajari melalui Etno-STEM, sementara teknologi membantu pencatatan dan komunikasi ketika sesuai kebutuhan serta tersedia.

Di sinilah kebijakan pendidikan pemerintah perlu diperiksa melalui kehidupan yang dibentuknya. Apabila mutu terlalu mudah dikenali dari kelengkapan dokumen, jumlah kegiatan, dan penampilan produk, sekolah dapat terdorong mengejar bukti yang cepat terlihat. Sementara itu, pembentukan kebiasaan membutuhkan waktu, pendampingan, dan pekerjaan yang sering tidak menarik perhatian. Kritik ini mengajak pembuat kebijakan meninjau perangkat pelaksanaan. Apakah guru mempunyai ruang untuk memahami persoalan setempat? Apakah pelatihan disertai pendampingan? Apakah tuntutan administrasi membantu pengajaran? Tujuan yang luhur memerlukan dukungan yang membuat pendidik mampu bekerja secara bermakna.

Keadilan dukungan juga perlu menjadi perhatian. Sekolah mempunyai keadaan lahan, fasilitas, layanan, dan pembiayaan yang berbeda. Sekolah berhalaman sempit tetap dapat membangun tanggung jawab ekologis. Anak tidak semestinya dinilai melalui perlengkapan ramah lingkungan yang mampu dibeli keluarganya. Kebijakan perlu menyediakan pilihan kegiatan, sumber belajar yang mudah digunakan, waktu kolaborasi, serta dukungan kebutuhan dasar. Air, sanitasi, keselamatan, dan pemeliharaan merupakan prasyarat penting. Pendidikan akan sulit meminta peserta didik menjaga kebiasaan apabila lingkungan yang disediakan belum membantu mereka melakukannya.

Penilaian pun perlu mengikuti kedalaman tujuan. Pemahaman dikenali melalui penjelasan, kecakapan melalui kegiatan, pertimbangan moral melalui alasan, dan perkembangan kebiasaan melalui pengamatan yang wajar. Tidak setiap tindakan perlu berubah menjadi laporan panjang. Evaluasi lembaga seharusnya bersedia mengikuti kehidupan setelah acara selesai. Bagaimana keadaan pohon beberapa bulan setelah ditanam? Apakah penggunaan air membaik setelah kampanye? Apakah petugas mendapat dukungan? Pertanyaan semacam ini membawa perhatian kepada tindak lanjut. Di sana, kualitas pendidikan sering diuji melalui kesabaran memelihara pekerjaan yang tidak lagi berada dalam sorotan. Pendidikan yang menyentuh qalbu membantu anak memahami bahwa dirinya terhubung dengan kehidupan lain. Ia menghargai kerja petani, memperhatikan kelelahan petugas, dan mempertimbangkan kebutuhan teman. Perasaan itu kemudian diberi jalan melalui pengetahuan serta tindakan. Guru PAI membuka makna dan memberi teladan; keluarga, masjid, komunitas, serta pemerintah memperluas dukungan. Ketika tanggung jawab dibagi secara jelas, model Tauhid hingga Transformasi memperoleh tempat dalam kehidupan. Anak yang menutup keran menjalankan amanah. Sekolah yang memperbaikinya menjalankan kewajiban kelembagaan. Pemerintah yang memastikan dukungan tersedia menjaga kesempatan pendidikan. Dari perjumpaan itulah Eco-PAI menumbuhkan iman yang merawat bumi.

Leave a Comment