Oleh Dr. Suhardin, S.Ag., M.Pd.

Seorang anak belajar tentang lingkungan bukan hanya ketika membaca buku mengenai pencemaran. Ia juga belajar ketika melihat gurunya mematikan lampu, menemukan keran yang dibiarkan bocor, atau memperhatikan makanan yang dibuang setelah makan bersama. Kehidupan sehari-hari di lembaga pendidikan menyampaikan pesan tentang bagaimana manusia memperlakukan alam. Pesan itu dapat memperkuat pembelajaran, tetapi dapat pula bertentangan dengannya. Di sinilah budaya ekologis menjadi penting: nilai kepedulian lingkungan perlu hadir dalam pengetahuan, perilaku, dan tata kelola lembaga.

Budaya ekologis adalah nilai, kebiasaan, dan aturan bersama yang mengarahkan manusia menjaga hubungan yang bertanggung jawab dengan lingkungan. Dalam lembaga pendidikan, budaya ini tampak melalui penggunaan air dan energi, pengelolaan sampah, pemeliharaan tanaman, konsumsi pangan, serta cara warga mengambil keputusan. Lingkungan yang tampak hijau merupakan salah satu unsur pendukung. Namun, keberadaan taman belum cukup apabila tanaman tidak dirawat, penggunaan air boros, dan sampah hanya dipindahkan dari ruang kelas ke tempat lain tanpa pengelolaan yang jelas.

UNESCO melalui Green School Quality Standard menekankan pendekatan menyeluruh terhadap lembaga pendidikan. Keberlanjutan perlu diintegrasikan ke dalam tata kelola, fasilitas dan operasional, pembelajaran, serta keterlibatan masyarakat. Dengan pendekatan ini, pendidikan lingkungan menjadi bagian dari kehidupan lembaga, bukan kegiatan yang berhenti setelah peringatan hari lingkungan.

Sekolah memiliki kesempatan mempertemukan pengetahuan dengan pengalaman ekologis. Halaman, kantin, ruang kelas, saluran air, dan tempat sampah dapat menjadi laboratorium kehidupan. Peserta didik dapat mengamati jenis sampah yang dihasilkan, menghitung penggunaan air, merawat tanaman, atau menelusuri penyebab makanan terbuang. Pengalaman tersebut membantu mereka memahami bahwa persoalan lingkungan berkaitan dengan pilihan dan kebiasaan manusia.

Pembelajaran dapat dikembangkan lintas mata pelajaran. IPA menjelaskan proses penguraian dan hubungan antarmakhluk hidup. Matematika membantu menghitung volume sampah serta perubahan konsumsi energi. IPS membahas hubungan lingkungan dengan kehidupan masyarakat. Pendidikan agama mengembangkan refleksi tentang tanggung jawab, kesederhanaan, dan keadilan. Dengan demikian, satu persoalan nyata dapat dipahami melalui berbagai sudut pandang.

Proyek ekologis perlu memiliki kesinambungan. Menanam pohon dilanjutkan dengan perawatan dan pengamatan pertumbuhan. Pemilahan sampah disertai kepastian pengangkutan serta penanganan sesuai jenisnya. Kampanye hemat air diikuti pemeriksaan kebocoran. Peserta didik kemudian mengevaluasi hasil tindakan, sehingga memperoleh pengalaman bahwa kepedulian memerlukan pengetahuan, kerja sama, dan tanggung jawab.

Perguruan tinggi dan tanggung jawab keilmuan

Perguruan tinggi dapat mengembangkan budaya ekologis melalui pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengelolaan kampus. Kampus menyediakan persoalan nyata yang dapat dikaji bersama: konsumsi listrik, penggunaan air, transportasi, sampah kantin, dan pemanfaatan ruang terbuka. Mahasiswa dapat menjadikan persoalan tersebut sebagai bahan penelitian dan proyek perbaikan yang hasilnya digunakan oleh pengelola.

Keterlibatan berbagai disiplin ilmu memperluas kualitas solusi. Mahasiswa teknik dapat mengkaji efisiensi energi, mahasiswa ekonomi menilai biaya dan manfaat, mahasiswa sosial mempelajari perubahan perilaku, sedangkan mahasiswa pendidikan mengembangkan strategi pembelajaran. Kajian agama dan etika dapat memperkaya pembahasan tentang tanggung jawab manusia serta keadilan antargenerasi.

Budaya ekologis kampus juga membutuhkan keselarasan kebijakan. Pengajaran tentang keberlanjutan perlu didukung keputusan pengadaan, pemeliharaan fasilitas, dan pengelolaan limbah. Pimpinan kampus memiliki peran menyediakan dukungan dan menindaklanjuti hasil kajian. Dengan begitu, pengetahuan yang dihasilkan perguruan tinggi memperoleh ruang penerapan dalam kehidupan institusinya sendiri.

Madrasah dan pesantren sebagai ruang pembentukan akhlak ekologis

Madrasah memiliki peluang menghubungkan pengetahuan lingkungan dengan nilai keagamaan. Pembelajaran tentang amanah, kebersihan, keseimbangan, dan larangan berlebihan dapat dipertemukan dengan pengalaman menggunakan air, menjaga sanitasi, serta mengurangi makanan terbuang. Hubungan ini membantu peserta didik memahami alasan moral di balik tindakan ekologis.

Dalam Pendidikan Agama Islam berbasis ekologis atau Eco-PAI, kepedulian lingkungan dikembangkan melalui hubungan antara tauhid, kesadaran, pengetahuan, refleksi, akhlak, dan tindakan. Peserta didik diajak memahami kehidupan sebagai amanah, mempelajari persoalan lingkungan, mempertimbangkan akibat perilakunya, kemudian melakukan perbaikan. Pembiasaan dan dukungan lembaga membuat tindakan tersebut berkembang menjadi budaya bersama.

Pesantren memiliki kekhasan karena pendidikan berlangsung bersama kehidupan berasrama. Penggunaan air, pangan, energi, dan sanitasi terjadi sepanjang hari. Keteladanan kiai, ustaz, pengurus, serta santri dapat menguatkan kebiasaan menjaga lingkungan. Dapur, kebun, tempat wudu, dan asrama menjadi ruang pembelajaran yang dekat dengan kehidupan santri.

Kegiatan ekologis di pesantren perlu disertai tujuan belajar dan dukungan fasilitas. Jadwal kebersihan dapat dikembangkan menjadi pengalaman memahami kesehatan lingkungan serta tanggung jawab bersama. Pengelolaan kebun dapat melatih kesabaran dan pengetahuan tentang pangan. Anjuran hidup bersih juga perlu ditopang ketersediaan air, sanitasi yang layak, dan pengelolaan limbah yang memadai.

PKBM sebagai penggerak pembelajaran masyarakat

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat atau PKBM mempunyai ruang penting untuk menghubungkan pendidikan ekologis dengan kebutuhan warga. Peserta belajarnya dapat membawa pengalaman rumah tangga, pekerjaan, dan persoalan lingkungan setempat. Sampah permukiman, penggunaan air, kebun pangan, atau kondisi saluran lingkungan dapat menjadi bahan pembelajaran yang relevan.

Pembelajaran numerasi, misalnya, dapat menggunakan pencatatan sampah atau perhitungan kebutuhan air. Literasi dapat dikembangkan melalui pembacaan informasi lingkungan dan penyusunan laporan pengamatan. Pendidikan keterampilan dapat dikaitkan dengan perawatan kebun, perbaikan barang, atau pengolahan bahan organik yang sesuai kondisi lokal.

PKBM juga dapat mempertemukan warga dengan pengelola lingkungan, kelompok tani, atau pelaku usaha setempat. Kerja sama membantu memastikan bahwa kegiatan memiliki jalur pemanfaatan yang nyata. Program daur ulang, misalnya, perlu mempertimbangkan jenis bahan, kebersihan, kebutuhan pasar, dan pengelolaan residunya. Nilai pendidikan tetap terletak pada kemampuan warga memahami persoalan dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

PAUD dan tumbuhnya rasa sayang terhadap kehidupan

Pada Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD, budaya ekologis dapat dibangun melalui pengalaman sederhana, menyenangkan, dan aman. Anak belajar menyiram tanaman secukupnya, merawat ruang bermain, menggunakan air dengan bimbingan, serta mengenal makhluk hidup di sekitarnya. Cerita, permainan, dan pengamatan alam memberi kesempatan mengembangkan rasa ingin tahu dan kepedulian.

Pendekatan untuk anak usia dini perlu sesuai tahap perkembangannya. Persoalan lingkungan dapat dikenalkan melalui tindakan yang dekat dengan keseharian, tanpa membebani anak dengan ketakutan tentang masa depan bumi. Keteladanan pendidik dan orang tua menjadi bagian penting: anak melihat, meniru, lalu memahami melalui pengalaman berulang.

Kegiatan harus memperhatikan keselamatan. Anak tidak dilibatkan dalam penanganan sampah berbahaya, benda tajam, atau limbah tercemar. Pemilahan dapat diperkenalkan menggunakan bahan bersih yang aman. Tujuannya ialah membentuk kebiasaan dasar dan hubungan yang penuh perhatian terhadap kehidupan.

Dari kegiatan menuju budaya bersama

Seluruh lembaga pendidikan membutuhkan kepemimpinan, fasilitas, dan partisipasi agar praktik ekologis dapat bertahan. Pimpinan menetapkan arah serta menyediakan dukungan. Pendidik memberi teladan dan membimbing refleksi. Peserta didik terlibat dalam tindakan sesuai kemampuan. Keluarga dan masyarakat membantu menjaga kesinambungan kebiasaan di luar lembaga.

Keberhasilan perlu dinilai melalui perubahan yang dapat diamati. Apakah sampah berkurang? Apakah kebocoran air ditangani? Apakah tanaman tetap dirawat setelah kegiatan selesai? Apakah warga memahami alasan tindakannya? Pengukuran juga perlu mempertimbangkan jumlah pengguna dan hari kegiatan agar perbandingan antarperiode bermakna. Budaya ekologis tumbuh ketika kepedulian menjadi cara hidup bersama. Dari PAUD hingga perguruan tinggi, dari sekolah dan madrasah hingga pesantren serta PKBM, pendidikan memiliki kesempatan membentuk manusia yang mampu memahami, merawat, dan memperbaiki lingkungannya. Dalam perspektif Eco-PAI, proses tersebut mempertemukan iman dengan pengetahuan dan akhlak: mencintai kehidupan diwujudkan melalui tanggung jawab sehari-hari terhadap bumi.

Leave a Comment