Prof. Dr. Rahmat Arief, Dipl.-Ing. Pernahkah kita merenung, di level mana kebahagiaan kita saat ini? Apakah bahagia kita masih bergantung pada apa yang kita konsumsi, atau sudah bergeser pada apa yang kita wariskan
Dalam sudut pandang spiritual, kebahagiaan sejati bukanlah al-farah (kesenangan sesaat yang artifisial), melainkan Hayatan Thayyibah—kehidupan yang baik, tenang, dan penuh berkah. Menariknya, tangga kebahagiaan ini berbanding lurus dengan bagaimana cara kita memperlakukan alam semesta sebagai amanah suci Sang Pencipta.
Jika kita membedah hubungan antara manusia, kebahagiaan, dan lingkungan sekitar, kita akan menemukan 4 tingkatan level spiritual-ekologis. Mari kita ambil contoh nyata pada komitmen kita terhadap Kelestarian Sungai:
Level 1: Pleasure (Kesenangan Sesaat) Ini level paling dasar. Bahagia kita muncul saat nongkrong di kafe estetik tepi sungai yang bersih, lalu berswafoto untuk media sosial. Sifatnya ego-sentris; kita hanya menikmati keindahan alam tanpa peduli kelestariannya setelah kita pulang.
Level 2: Achievement (Capaian Mandiri) Bahagia karena disiplin diri. Di level ini, kita menantang diri sendiri untuk memungut sampah plastik setiap kali berjalan di sepanjang bantaran sungai. Ada kepuasan batin karena berhasil mengalahkan rasa malas melalui aksi fisik sendiri.
Level 3: Contribution (Kebermanfaatan Bersama) Titik balik dari Ego menjadi Eco. Bahagia kita beralih menjadi sosio-sentris. Kita mulai menginisiasi komunitas “Sahabat Sungai”, mengedukasi warga sekitar untuk tidak membuang limbah domestik, dan memasang jaring sampah bersama-sama. Bahagianya bertahan lama karena melihat ekosistem pulih dan orang lain mendapat manfaat.
Level 4: Legacy (Warisan Abadi / Amal Jariah) Inilah puncak kebahagiaan transendental. Aksi nyata kita naik kelas menjadi sistem. Anda memperjuangkan regulasi daerah (Perda) perlindungan zonasi sungai, atau membangun sistem kawasan ekowisata berbasis konservasi sungai yang mandiri secara ekonomi bagi warga lokal, serta menanam ribuan vegetasi riparian (tumbuhan penguat tebing sungai) yang akan terus menjaga struktur tanah dan air hingga ratusan tahun ke depan, atau berhasil memperjuangkan regulasi perlindungan sungai.
Mengapa Level 4 disebut sebagai kebahagiaan sejati? Allah SWT berfirman dalam QS. Yasin ayat 12: ”Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang mati, dan Kami yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan…”
Secara tafsir, kata “Atsarahum” (bekas-bekas yang ditinggalkan) bukan hanya soal jejak langkah kaki, melainkan segala dampak dari perbuatan kita yang terus mengalir manfaatnya di dunia meski jasad kita telah menyatu dengan tanah. Sungai yang bersih dari sampah, mata air yang terjaga, dan ekosistem yang lestari adalah atsar (jejak ekologis) yang akan menjelma menjadi amal jariah, bekal terbaik menuju keabadian.
Menjaga bumi bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan bentuk tertinggi dari penghambaan kita. Bergerak dari kesalehan ritual yang personal menuju kesalehan ekologis yang berdampak luas.
Setelah merenungkan perjalanan ini, mari jujur pada diri sendiri… sudah di level manakah kita?
