Oleh: Dr. Suhardin, S.Ag., M.Pd.

Ketika mendengar kata sains, pikiran kita sering langsung tertuju kepada laboratorium, mikroskop, rumus, eksperimen, teknologi modern, dan berbagai istilah ilmiah yang terkadang terasa jauh dari kehidupan masyarakat. Padahal jauh sebelum sains diajarkan secara formal di sekolah, masyarakat telah berinteraksi dengan berbagai fenomena alam dan mengembangkan pengetahuan berdasarkan pengalaman yang diwariskan antargenerasi.

Masyarakat mengetahui waktu yang tepat untuk bercocok tanam, mengenali perubahan musim, mengolah tumbuhan menjadi obat tradisional, mengawetkan makanan, melakukan fermentasi, membangun rumah yang sesuai dengan kondisi iklim, mengelola air, hingga menjaga kawasan hutan dan sumber mata air.

Di balik semua praktik tersebut sesungguhnya terdapat fenomena fisika, kimia, biologi, ekologi, matematika, teknologi, bahkan rekayasa. Persoalannya adalah pendidikan kita sering membuat jarak antara sains yang dipelajari di sekolah dengan sains yang hidup di tengah masyarakat. Di sinilah Pendidikan IPA berbasis Etno-STEM menjadi penting.

Etno-STEM mempertemukan pengetahuan dan kearifan lokal dengan Science, Technology, Engineering and Mathematics. Pendekatan ini tidak sekadar memasukkan unsur budaya ke dalam pembelajaran IPA sebagai ornamen, melainkan menjadikan pengetahuan masyarakat sebagai pintu masuk untuk melakukan penyelidikan ilmiah, rekonstruksi pengetahuan, pemecahan masalah, dan penciptaan inovasi.

Kajian sistematis terbaru mengenai integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran IPA di Indonesia menemukan bahwa tema-tema seperti makanan tradisional, lingkungan dan konservasi, budaya, arsitektur, serta permainan tradisional telah digunakan sebagai konteks pembelajaran. Integrasi tersebut dilaporkan berkaitan dengan peningkatan literasi sains, motivasi, kreativitas, dan karakter peserta didik.

Jangan Hanya Menghafal Sains

Tantangan Pendidikan IPA bukan semata-mata bagaimana membuat peserta didik mengetahui lebih banyak konsep, melainkan bagaimana mereka mampu menggunakan pengetahuan untuk memahami dan menyelesaikan persoalan kehidupan. Peserta didik dapat menghafal definisi fermentasi. Tetapi pembelajaran menjadi jauh lebih bermakna ketika mereka diajak melihat bagaimana tempe, tape, kecap atau makanan fermentasi lainnya diproduksi masyarakat.

Dari sebuah tempe, misalnya, peserta didik dapat mempelajari mikroorganisme dan fermentasi sebagai Science. Mereka mempelajari alat dan proses produksinya sebagai Technology. Mereka dapat merancang alat pengontrol suhu fermentasi sederhana sebagai Engineering. Selanjutnya mereka mengukur suhu, waktu, produktivitas dan membandingkan hasil percobaan sebagai Mathematics. Maka sebuah produk tradisional berubah menjadi laboratorium Etno-STEM.

Penelitian di Sidoarjo memberikan contoh menarik. Pembelajaran discovery learning berbasis Etno-STEM menggunakan terasi khas Sidoarjo sebagai konteks pembelajaran bioteknologi. Pada penelitian terhadap 31 peserta didik kelas IX tersebut ditemukan perbedaan signifikan literasi sains sebelum dan sesudah pembelajaran, dengan N-Gain yang dilaporkan sebesar 0,8. Contoh tersebut memperlihatkan bahwa sesuatu yang sangat lokal dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kompetensi saintifik yang bersifat universal.

Etno-STEM Bukan Romantisasi Masa Lalu

Namun terdapat satu hal yang harus ditegaskan. Pendidikan berbasis Etno-STEM tidak boleh berubah menjadi romantisasi budaya. Tidak semua pengetahuan yang diwariskan masyarakat otomatis benar secara ilmiah. Justru di sinilah fungsi Pendidikan IPA.

Peserta didik harus didorong untuk bertanya: Mengapa praktik ini dilakukan? Mengapa bahan tertentu digunakan? Apakah praktik tersebut benar-benar menghasilkan efek sebagaimana diyakini masyarakat? Apa mekanisme biologis, kimia atau fisikanya? Dapatkah klaim tersebut diuji? Apakah terdapat cara yang lebih efektif, aman dan ramah lingkungan?

Dengan demikian, kearifan lokal bukan diterima secara pasif, tetapi ditempatkan sebagai objek scientific inquiry. Kita tidak berhenti pada local wisdom. Kita membawa local wisdom melalui proses penyelidikan ilmiah menuju local innovation.

Dari Local Wisdom Menuju Local Innovation

Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa untuk pengembangan Etno-STEM. Ribuan komunitas dengan lingkungan geografis, pangan, arsitektur, pertanian, perikanan, kerajinan dan sistem pengelolaan lingkungan yang berbeda merupakan laboratorium pendidikan yang sangat besar. Sistem Subak di Bali, misalnya, tidak hanya dapat dibicarakan sebagai warisan budaya. Ia dapat menjadi pintu masuk untuk mempelajari hidrologi, ekosistem, distribusi air, debit, teknologi irigasi, matematika hingga keberlanjutan lingkungan.

Rumah tradisional dapat dipelajari melalui struktur bangunan, gaya, material, termodinamika, sirkulasi udara dan adaptasi terhadap iklim. Pembuatan garam dapat digunakan untuk mempelajari evaporasi, kristalisasi, energi matahari dan rekayasa produksi. Jamu dan tanaman obat dapat menjadi pintu masuk untuk mempelajari biodiversitas, metabolit sekunder, ekstraksi dan kimia bahan alam. Tradisi pengelolaan hutan dan sumber air dapat menjadi ruang pembelajaran ekologi dan konservasi.

Dengan cara demikian, peserta didik tidak diposisikan hanya sebagai konsumen pengetahuan, tetapi sebagai peneliti muda yang melihat lingkungan sekitarnya dengan pertanyaan-pertanyaan saintifik.

Berakar secara Lokal, Berkompetensi secara Global

Kadang-kadang terdapat anggapan bahwa pendidikan berbasis budaya lokal akan membawa peserta didik kembali ke masa lalu. Pandangan tersebut perlu diluruskan. Etno-STEM justru mempertemukan dua kebutuhan sekaligus: identitas lokal dan kompetensi global. Seorang anak tidak harus kehilangan identitas budayanya untuk menjadi saintis, insinyur, teknolog atau inovator. Ia justru dapat berangkat dari persoalan masyarakatnya sendiri.

Kajian sistematis mengenai local wisdom dan STEM yang menganalisis 155 publikasi terindeks Scopus periode 2014–2024 menunjukkan meningkatnya perhatian terhadap integrasi tersebut dan menempatkan STEM sebagai jembatan penting antara kearifan lokal dan pendidikan formal. Kajian itu juga menunjukkan keterkaitannya dengan agenda pendidikan berkualitas dalam SDG 4.

Dengan demikian, Etno-STEM sesungguhnya bukan gerakan mundur menuju tradisionalisme. Ia merupakan gerakan maju yang berangkat dari akar kebudayaan sendiri.

Guru sebagai Fasilitator Investigasi

Pendekatan ini tentu menuntut perubahan cara mengajar. Guru tidak lagi hanya berperan sebagai orang yang menjelaskan konsep IPA di depan kelas. Guru menjadi fasilitator investigasi ilmiah. Peserta didik diajak keluar dari logika: mendengar, mencatat,  menghafal,  mengerjakan soal.

Pembelajaran diarahkan menuju: mengamati, mempertanyakan, meneliti, menguji,  menganalisis,  merancang, menciptakan dan merefleksikan. Pasar dapat menjadi laboratorium, sawah dapat menjadi laboratorium, sungai dan pantai dapat menjadi laboratorium, rumah tradisional dapat menjadi laboratorium, industri rumah tangga dapat menjadi laboratorium, bahkan dapur keluarga dapat menjadi laboratorium biologi, kimia dan fisika.

Kajian tentang transformasi pendidikan melalui Etno-STEM juga menemukan potensinya dalam pengembangan berpikir kritis dan kreatif. Namun implementasinya masih menghadapi persoalan seperti keterbatasan pemahaman pendidik, infrastruktur teknologi, dan kesulitan mengintegrasikan budaya lokal dengan kurikulum STEM. Karena itu, penguatan kompetensi guru menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari agenda Etno-STEM.

Etno-STEM Harus Bermuara pada Keberlanjutan

Menurut saya, pengembangan Etno-STEM ke depan tidak cukup berhenti pada literasi sains. Kita perlu membawanya menuju ecological literacy dan sustainability. Generasi mendatang menghadapi persoalan yang semakin kompleks: perubahan iklim, krisis air, pencemaran, sampah, kehilangan biodiversitas, degradasi lahan, ketahanan pangan, energi, hingga bencana ekologis.

Karena itu, pertanyaan Pendidikan IPA harus berkembang. Bukan hanya: “Apa konsep sains yang terdapat dalam fenomena ini?” Tetapi: “Bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan ini tanpa menciptakan persoalan ekologis yang baru?”

Di sinilah Etno-STEM memperoleh dimensi etik. Teknologi yang berhasil bukan hanya teknologi yang bekerja. Inovasi yang baik bukan hanya inovasi yang menghasilkan keuntungan.

Keduanya perlu dipertanyakan: apakah ramah lingkungan? Apakah menghemat sumber daya? Apakah mempertahankan biodiversitas? Apakah memberikan manfaat kepada masyarakat? Apakah dapat diwariskan kepada generasi berikutnya?

Kajian mengenai integrasi etnosains dalam pendidikan lingkungan di Indonesia menunjukkan bahwa pendekatan berbasis pengetahuan lokal berpotensi memperkuat pemahaman konseptual sekaligus apresiasi budaya, kepedulian lingkungan dan orientasi pembangunan berkelanjutan.

Empat Kecerdasan Pendidikan Masa Depan

Dari perspektif tersebut, saya melihat Pendidikan IPA berbasis Etno-STEM setidaknya perlu membangun empat kecerdasan sekaligus. Pertama, scientific intelligence, kemampuan memahami fenomena berdasarkan bukti, melakukan pengujian, berpikir kritis dan menarik kesimpulan secara rasional. Kedua, cultural intelligence, kemampuan memahami bahwa masyarakat mempunyai pengalaman, pengetahuan dan kebudayaan yang perlu dihargai sekaligus dikaji secara kritis.

Ketiga, ecological Intelligence: kemampuan memahami hubungan manusia dengan sistem kehidupan serta konsekuensi ekologis dari keputusan dan teknologi yang dikembangkan. Keempat, spiritual intelligence, kesadaran bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bebas dari tanggung jawab moral. Semakin tinggi kemampuan manusia mengintervensi alam, semakin besar pula tanggung jawabnya dalam menjaga kehidupan.

Empat kecerdasan tersebut penting agar pendidikan tidak hanya menghasilkan manusia cerdas secara teknologi tetapi miskin orientasi kemanusiaan dan ekologis.

Pendidikan yang Menemukan Masa Depan dari Akarnya

Pada akhirnya, Pendidikan IPA berbasis Etno-STEM bukan sekadar metode mengajar. Ia dapat menjadi paradigma untuk mendekatkan kembali sekolah dengan kehidupan masyarakat. Kita membutuhkan generasi yang mampu menggunakan mikroskop tanpa kehilangan kemampuan melihat lingkungannya; mampu menggunakan kecerdasan buatan tanpa kehilangan kearifan; mampu menciptakan teknologi tanpa merusak ekologi; serta mampu berkompetisi secara global tanpa kehilangan akar kebudayaannya. Karena itu, Pendidikan IPA berbasis Etno-STEM bukan membawa peserta didik kembali ke masa lalu. Sebaliknya, ia menjadikan kearifan masa lalu sebagai laboratorium untuk memahami masa kini dan menciptakan masa depan. Orientasinya dapat dirumuskan secara sederhana: Berakar pada budaya. Berpikir dengan sains. Bekerja dengan teknologi. Mencipta melalui rekayasa.
Mengukur dengan matematika. Berinovasi untuk masyarakat. Dan menjaga keberlanjutankehidupan. Itulah Pendidikan IPA yang tidak sekadar membuat peserta didik mengetahui dunia, tetapi mempersiapkan mereka untuk memahami, merawat, dan memperbaiki dunia. Wallau ‘alam.

Leave a Comment