Dr. Suhardin, S. Ag., M. Pd.
Gempa bumi yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026 merupakan gempa tektonik dangkal bermagnitudo M7,7 dengan kedalaman 15 kilometer. Episentrumnya berada di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo. Secara tektonik, gempa tersebut dipicu oleh aktivitas Flores Back-Arc Thrust, yaitu sistem sesar naik aktif di bagian utara Pulau Flores yang terbentuk akibat tekanan pergerakan Lempeng Indo-Australia terhadap sistem Busur Sunda–Banda. Akumulasi energi pada bidang sesar dilepaskan secara tiba-tiba ketika kekuatan batuan tidak lagi mampu menahan tekanan, kemudian merambat sebagai gelombang seismik dan menghasilkan guncangan hingga intensitas VII MMI.
Mekanisme sesar naik juga menyebabkan perpindahan vertikal dasar laut sehingga memicu tsunami yang tercatat mencapai sekitar 1,61 meter di kawasan Reo–Manggarai dan Manggarai Timur. Banyaknya gempa susulan setelah gempa utama menunjukkan proses penyesuaian kembali kerak bumi akibat perubahan distribusi tegangan di sekitar bidang sesar. Peristiwa ini menegaskan bahwa wilayah NTT berada dalam lingkungan tektonik aktif dan memerlukan pembangunan tahan gempa, penataan ruang berbasis risiko, jalur evakuasi, serta literasi tsunami yang berkelanjutan.
Segala peristiwa alam yang terjadi wujud dari keterbatasan daya upaya manusia, pesan teologis terhadap kemahabesaran Allah SWT. Allah menguasai alam, mengaturnya dengan sangat baik. Peristiwa alam; gempa dan tsunami diterima dengan kesabaran dan ketawakkalan, tetapi dengan mitigasi yang sempurna. Gempa tidak mungkin dihalangi, tetapi dampak gempa yang akan menimpa perlu di Kelola dengan sebaiknya, agar dampak gempa tersebut sangat minimal, jika memungkinkan zero effect.
Pendekatan keagamaan tidak dimaksudkan untuk menggantikan penjelasan ilmiah. Ilmu pengetahuan menjelaskan proses terjadinya gempa, sedangkan agama membimbing manusia dalam memaknai, merespons, dan mengambil pelajaran moral darinya.
Pesan Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Zalzalah sangat konkrite; “Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya.” Kata “zulzilat” menggambarkan bumi yang diguncangkan secara kuat dan berulang, sedangkan zilzālahā menunjukkan guncangan besar yang menjadi bagian dari peristiwa akhir zaman. Secara utama, ayat tersebut menjelaskan dahsyatnya kehancuran bumi menjelang Hari Kiamat. Oleh karena itu, gempa NTT tidak tepat disebut sebagai peristiwa kiamat yang dimaksud secara langsung oleh surah tersebut.
Namun, gempa yang dialami manusia dapat menjadi gambaran kecil dan pengingat tentang betapa dahsyatnya guncangan bumi yang dijelaskan Al-Qur’an. Jika gempa pada satu bagian kecil bumi saja mampu menimbulkan kepanikan, kerusakan, tsunami, dan kehilangan, manusia dapat membayangkan betapa dahsyatnya ketika seluruh bumi mengalami guncangan besar sebagaimana digambarkan dalam Surah Az-Zalzalah.
Secara geologis, bumi bukan benda yang statis. Lapisan kerak bumi tersusun atas lempeng-lempeng tektonik yang terus bergerak. Ketika tekanan pada batuan melampaui daya tahannya, sesar bergerak secara tiba-tiba dan energi dilepaskan sebagai gempa bumi.
Dalam perspektif keimanan, hukum-hukum alam tersebut merupakan bagian dari sunatullah. Allah menciptakan alam dengan ukuran, keteraturan, hubungan sebab-akibat, dan hukum yang dapat dipelajari manusia. Dengan demikian, mengatakan bahwa gempa terjadi akibat aktivitas sesar tidak berarti meniadakan kekuasaan Allah. Sebaliknya, ilmu geologi membantu manusia memahami cara hukum ciptaan Allah bekerja.
Gempa Flores memperlihatkan bahwa sesuatu yang terlihat kokoh ternyata menyimpan pergerakan dan energi sangat besar. Tanah yang setiap hari menjadi tempat berpijak dapat berguncang hanya dalam hitungan detik. Keadaan ini mengingatkan manusia bahwa keamanan yang dirasakan bukanlah kekuasaan mutlak manusia, melainkan keadaan yang sangat bergantung pada rahmat dan ketetapan Allah.
Pada ayat ketiga dinyatakan Allah; “Dan manusia bertanya, ‘Apa yang terjadi pada bumi ini?” Pertanyaan tersebut menggambarkan keterkejutan, kebingungan, dan ketidak berdayaan manusia ketika tatanan alam yang dianggap stabil tiba-tiba berubah. Pengalaman masyarakat Flores ketika tanah berguncang kuat, bangunan mengalami kerusakan, dan peringatan tsunami diumumkan merupakan keadaan yang dapat mendekatkan manusia pada makna psikologis ayat tersebut.
Dalam keadaan normal, manusia merasa mampu mengendalikan kehidupan melalui teknologi, kekayaan, bangunan, dan kekuasaan. Akan tetapi, gempa besar memperlihatkan batas-batas kemampuan tersebut. Teknologi dapat mendeteksi, memetakan, dan memberikan peringatan dini, tetapi belum dapat menentukan secara pasti kapan gempa akan terjadi. Kesadaran akan keterbatasan ini seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan ketakutan yang tidak rasional.
Pada ayat ke empat dan kelima, Allah menegaskan: “Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan kepadanya.” Dalam konteks eskatologis, ayat ini menerangkan bahwa pada Hari Kiamat bumi akan menjadi saksi atas seluruh perbuatan manusia. Tidak ada tindakan yang benar-benar hilang dari pertanggungjawaban.
Sebagai refleksi kontemporer, bumi juga “berbicara” melalui tanda-tanda fisiknya. Pergeseran sesar, gelombang seismik, perubahan muka laut, retakan tanah, dan kerusakan bangunan menyampaikan informasi mengenai dinamika yang berlangsung di dalam bumi. Seismograf menangkap “berita bumi” dalam bentuk rekaman gelombang. Para ilmuwan kemudian membaca dan menerjemahkannya menjadi informasi magnitudo, kedalaman, lokasi, mekanisme sumber, serta potensi tsunami. Hal ini memberikan pesan bahwa bumi bukan sekadar ruang pasif bagi kehidupan manusia. Bumi menyimpan rekaman, hukum, dan konsekuensi dari berbagai peristiwa yang berlangsung di atas maupun di dalamnya.
Musibah dapat menjadi ujian bagi orang beriman, sebagaimana Allah menyatakan bahwa manusia tidak akan dibiarkan hanya berkata telah beriman tanpa mengalami pengujian. Akan tetapi, manusia tidak mempunyai kewenangan untuk memastikan bahwa gempa tertentu merupakan azab atas dosa masyarakat yang terkena bencana.
Dalam ajaran Islam, musibah dapat memiliki makna yang berbeda-beda: ujian keimanan, peringatan, sarana peningkatan derajat, penghapus kesalahan, atau akibat dari hukum sebab-akibat yang berlangsung di alam. Makna akhirnya berada dalam pengetahuan Allah.
Bagi korban, gempa merupakan ujian kesabaran, keteguhan, dan kemampuan bangkit. Bagi pemerintah dan masyarakat luas, gempa merupakan ujian kepedulian, keadilan, profesionalitas, dan kesediaan menolong. Bagi ilmuwan dan perguruan tinggi, gempa merupakan ujian tanggung jawab keilmuan untuk menghasilkan pengetahuan yang dapat melindungi kehidupan.
Gempa tidak hanya menguji kesalehan dalam bentuk doa, zikir, dan kesabaran. Peristiwa tersebut juga menguji kesalehan sosial dan institusional. Allah menegaskan bahwa; “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat balasannya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat balasannya.” Allah memberikan fondasi etik dalam penanganan bencana. Setiap tindakan sekecil apa pun mempunyai nilai dan konsekuensi. Sebungkus makanan, pertolongan medis, informasi evakuasi, tenda darurat, pemeriksaan bangunan, ataupun dukungan kepada anak-anak korban dapat menjadi kebaikan yang sangat berarti. Sebaliknya, menimbun bantuan, menyebarkan hoaks, mengabaikan standar bangunan, melakukan korupsi dana bencana, atau memanfaatkan penderitaan korban untuk kepentingan pribadi merupakan perbuatan yang akan dimintai pertanggungjawaban. Pesan Surah Az-Zalzalah tidak seharusnya berhenti pada rasa takut. Kesadaran akan kekuasaan Allah harus melahirkan tindakan rasional dan bertanggung jawab. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar. Tawakal harus didahului usaha untuk memahami risiko, memperkuat bangunan, menyiapkan jalur evakuasi, melaksanakan simulasi, dan mengikuti informasi resmi. Nashrun Minallah.
