Oleh: Dr. Suhardin, S.Ag., M.Pd.

Ketua LPLH&SDA Majelis Ulama Indonesia Pusat

Banjir yang melanda Padang, Sumatera Barat, di tengah menguatnya fenomena El Niño menghadirkan sebuah paradoks alam yang menarik untuk direnungkan. Ketika El Niño biasanya dikaitkan dengan kemarau panjang dan kekeringan, mengapa Padang justru dilanda hujan lebat hingga banjir? Fenomena ini mengingatkan kita bahwa alam tidak selalu bekerja sesederhana yang kita bayangkan. Ada dinamika iklim yang kompleks, kondisi ekologis yang saling berkaitan, dan tanggung jawab manusia yang perlu direnungkan.

Secara ilmiah, El Niño tidak berarti seluruh wilayah Indonesia akan mengalami kekeringan. El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang memengaruhi pola hujan di berbagai belahan dunia. Namun, pengaruhnya tidak merata. Padang yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia dan dikelilingi Pegunungan Bukit Barisan memiliki karakter iklim tersendiri. Pasokan uap air dari lautan, pertemuan angin, serta pengaruh pegunungan dapat memicu hujan lebat sekalipun El Niño sedang berlangsung. Inilah sebabnya ancaman kekeringan dan banjir dapat hadir dalam periode iklim yang sama.

Namun, banjir bukan semata-mata persoalan hujan. Besarnya dampak banjir juga ditentukan oleh kemampuan lingkungan menyerap dan mengalirkan air. Hutan yang terjaga, sungai yang berfungsi baik, dan kawasan resapan yang memadai merupakan benteng alami terhadap banjir. Sebaliknya, kerusakan hutan, perubahan penggunaan lahan, penyempitan sungai, dan buruknya drainase dapat memperbesar risiko bencana. Faktor-faktor tersebut perlu dikaji secara khusus untuk memastikan kontribusinya terhadap banjir Padang. Hujan adalah proses alam, tetapi kerusakan lingkungan dapat mengubah hujan menjadi ancaman yang lebih besar bagi kehidupan.

Dalam perspektif Islam, alam diciptakan Allah dengan prinsip keseimbangan atau mizan. Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Rahman ayat 7–8: “Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan, agar kamu jangan merusak keseimbangan itu.” Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan harus dijalankan dengan menghormati keteraturan ciptaan Allah. Ketika manusia mengeksploitasi alam tanpa mempertimbangkan daya dukungnya, sesungguhnya manusia sedang mengabaikan amanah untuk menjaga keseimbangan tersebut.

Peringatan yang lebih tegas terdapat dalam Surah Ar-Rum ayat 41: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” Ayat ini patut menjadi bahan muhasabah ekologis. Kerusakan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari perilaku manusia yang sering menempatkan kepentingan ekonomi di atas kelestarian alam. Namun, kita juga harus berhati-hati: tidak setiap bencana merupakan akibat langsung perbuatan manusia, apalagi hukuman Allah kepada para korban. Bencana justru harus membangkitkan empati, solidaritas, dan tanggung jawab untuk memperbaiki keadaan.

Di sinilah makna kekhalifahan manusia menemukan relevansinya. Manusia bukan penguasa mutlak atas bumi, melainkan pemegang amanah untuk memelihara kehidupan. Menjaga hutan, memulihkan sungai, melindungi daerah resapan, mengurangi pencemaran, dan membangun kesiapsiagaan bencana merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan. Masjid, pesantren, sekolah, perguruan tinggi, dan organisasi keagamaan perlu menjadi penggerak kesadaran ekologis. Dakwah lingkungan tidak cukup berhenti pada nasihat, tetapi harus melahirkan gerakan nyata pemuliaan lingkungan.

Banjir Padang juga mengingatkan kita bahwa perubahan iklim bukan sekadar persoalan suhu bumi, melainkan persoalan keselamatan dan keadilan sosial. Masyarakat yang paling rentan sering kali menjadi pihak yang paling berat menanggung dampak bencana. Karena itu, menjaga lingkungan harus berjalan seiring dengan melindungi kehidupan manusia. Dalam kerangka maqāṣid al-syarī‘ah, upaya mengurangi risiko bencana merupakan bagian dari ikhtiar menjaga jiwa, harta, dan keberlangsungan generasi.

Pada akhirnya, banjir di tengah El Niño bukan hanya mengajarkan kita tentang rumitnya sistem iklim, tetapi juga mengingatkan tentang rapuhnya kehidupan ketika keseimbangan alam diabaikan. Ilmu pengetahuan membantu manusia memahami bagaimana bencana terjadi, sedangkan agama memberikan tuntunan moral tentang bagaimana manusia seharusnya memperlakukan alam.

Banjir Padang hendaknya tidak berlalu sebagai berita duka yang segera terlupakan. Ia harus menjadi momentum membangun kesadaran baru bahwa bumi bukan sekadar tempat manusia mencari kehidupan, melainkan amanah Allah yang harus dijaga.Sebab, menjaga bumi adalah bagian dari ibadah, memulihkan lingkungan adalah wujud tanggung jawab kekhalifahan, dan melindungi kehidupan merupakan manifestasi nyata dari keimanan kepada Allah SWT.

Leave a Comment