Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi — Semangat mewujudkan masjid yang mandiri, produktif, dan ramah lingkungan terus dikembangkan melalui berbagai inovasi berbasis pemberdayaan umat. Salah satunya ditunjukkan oleh EcoMasjid Baitul Makmur, Telaga Sakinah, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, melalui program budidaya ikan lele yang dikelola oleh pemuda masjid di bawah naungan Badan Usaha Milik Masjid (BUMM).

Program budidaya ikan lele ini kini memasuki masa panen. Ikan dibesarkan melalui tujuh kolam berbahan plastik dengan hasil panen yang diproyeksikan mencapai ratusan kilogram. Lele yang siap dipasarkan memiliki ukuran konsumsi ideal, yakni sekitar 8–10 ekor per kilogram.

Kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada produksi pangan dan pengembangan usaha, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi sirkular berbasis masjid. Melalui pendekatan ini, potensi sampah organik di lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan kembali menjadi sumber daya yang bernilai guna.

Mengubah Sampah Menjadi Sumber Keberkahan

Salah satu aspek penting dari program ini adalah pemanfaatan sampah sisa makanan (food waste) sebagai bagian dari rantai pengelolaan sumber daya. Sampah organik diolah untuk menghasilkan maggot Black Soldier Fly (BSF), yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai pakan alternatif bagi ikan lele dan ayam.

Pemanfaatan maggot BSF merupakan salah satu pendekatan yang dapat mendukung pengurangan sampah organik sekaligus menyediakan sumber protein alternatif untuk pakan ternak dan ikan. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah yang sebelumnya berpotensi menjadi beban lingkungan dapat diubah menjadi sumber daya produktif.

Praktik tersebut mencerminkan konsep ekonomi sirkular, yaitu mengupayakan agar sumber daya dapat digunakan kembali dan nilai manfaatnya terus diperpanjang. Dalam konteks masjid, pendekatan ini membuka peluang integrasi antara pengelolaan sampah, ketahanan pangan, pemberdayaan pemuda, dan penguatan ekonomi umat.

Masjid sebagai Pusat Pemberdayaan dan Kemandirian Umat

Melalui Badan Usaha Milik Masjid, hasil budidaya lele dipasarkan kepada jamaah, masyarakat sekitar, dan para pengunjung dengan harga yang terjangkau. Kehadiran usaha ini diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap sumber pangan bergizi sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi pengelolaannya.

Penjualan hasil panen juga menjadi salah satu upaya mendukung biaya operasional masjid. Dengan demikian, masjid tidak hanya menjalankan fungsi ibadah dan pembinaan keagamaan, tetapi turut berperan sebagai pusat pemberdayaan sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Keterlibatan pemuda masjid menjadi faktor penting dalam keberlanjutan program ini. Selain memperoleh pengalaman dalam pengelolaan usaha produktif, para pemuda dapat mengembangkan keterampilan kewirausahaan, budidaya perikanan, dan pengelolaan sumber daya secara bertanggung jawab.

Model seperti ini berpotensi menjadi inspirasi bagi masjid-masjid lain untuk mengembangkan program serupa sesuai dengan kondisi dan potensi wilayah masing-masing.

Sejalan dengan Semangat Gerakan EcoMasjid

Inisiatif EcoMasjid Baitul Makmur selaras dengan semangat gerakan EcoMasjid yang mendorong masjid menjadi pusat edukasi dan aksi nyata pelestarian lingkungan. Masjid memiliki potensi strategis untuk membangun kesadaran umat mengenai pentingnya mengurangi sampah, memanfaatkan sumber daya secara bijak, dan mengembangkan pola hidup yang lebih berkelanjutan.

Upaya tersebut juga sejalan dengan perhatian Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (LPLH SDA MUI) terhadap penguatan kesadaran lingkungan melalui pendekatan keagamaan, pemberdayaan masyarakat, dan praktik nyata di tingkat komunitas.

Nilai-nilai Islam mengajarkan umat untuk menjaga keseimbangan alam dan menghindari perilaku berlebihan. Dalam Surah Al-A’raf ayat 56, Allah SWT melarang manusia membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya. Pesan ini menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian penting dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.

Melalui budidaya lele, pemanfaatan maggot BSF, dan pengelolaan usaha berbasis masjid, EcoMasjid Baitul Makmur menunjukkan bahwa kepedulian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi dan pelayanan kepada masyarakat.

Dari Masjid Kita Bangkit, Bersama Umat Kita Makmur

Panen lele di EcoMasjid Baitul Makmur bukan sekadar kegiatan menghasilkan ikan konsumsi. Lebih dari itu, program ini menjadi contoh bagaimana kolaborasi pemuda masjid, pengelola BUMM, jamaah, dan masyarakat dapat menciptakan manfaat ekonomi sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan.

Masyarakat yang ingin memperoleh lele segar dapat mendukung program ini dengan membeli hasil panen secara langsung melalui pengelola BUMM Masjid Baitul Makmur.

Semakin besar partisipasi masyarakat, semakin terbuka pula peluang bagi masjid untuk mengembangkan usaha produktif, memperkuat kemandirian operasional, dan memperluas manfaatnya bagi umat.

Dari Masjid Kita Bangkit, Bersama Umat Kita Makmur.

EcoMasjid Baitul Makmur — Telaga Sakinah, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi.

Leave a Comment