Oleh: Dr. Suhardin, S.Ag., M.Pd.
Sekretaris Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Ada pemikiran menarik yang disampaikan Ustaz Fajri dalam kajian Kemah Dakwah Muhammadiyah Kabupaten Bogor, Sabtu 1 November 2026 yang berlangsung di kawasan Gunung Bunder, Leuwi Situhiang&Camping Ground Pamijahan, Kabupaten Bogor. Di tengah suasana alam pegunungan yang sejuk, Ustaz Fajri mengajak peserta melakukan refleksi historis terhadap strategi dakwah Rasulullah SAW dan para sahabat dalam membangun peradaban Islam.
Menurut Ustaz Fajri, terdapat lima strategi penting yang dapat dipelajari dari perjalanan dakwah Islam generasi awal, yaitu diaspora sahabat, dakwah melalui sirah, pengutusan dai dengan misi khusus, dakwah melalui kegiatan publik, dan membangun kehidupan yang wasathiyah.
Kelima strategi tersebut menarik untuk direnungkan, terutama ketika Muhammadiyah sedang memperkuat dakwah pencerahan berbasis komunitas yang berkemajuan sebagai salah satu instrumen penting dalam membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Diaspora Sahabat: Dakwah Harus Bergerak Menjangkau Umat
Pemikiran pertama Ustaz Fajri adalah tentang diaspora sahabat. Rasulullah SAW tidak membangun gerakan dakwah yang terpusat pada satu tempat, sekalipun mereka meyakini bahwa beribadah pada tempat itu memiliki keutamaan, tetapi mereka lebih mengejar keutamaan lain. Para sahabat bergerak ke berbagai kawasan, membawa pesan Islam, membangun hubungan sosial, dan mengembangkan komunitas muslim baru.
Dalam perjalanan sejarah, kita mengenal hijrah ke Habasyah, pengutusan Mush’ab bin Umair ke Yatsrib, serta penyebaran para sahabat ke berbagai wilayah setelah masa Rasulullah SAW. Dari strategi ini dapat dipahami bahwa dakwah memiliki watak mobilitas, ekspansi sosial, dan keberanian memasuki ruang-ruang kehidupan baru.
Bagi Muhammadiyah, pemikiran tersebut sangat relevan. Dakwah tidak boleh hanya menunggu jamaah datang ke masjid, menghadiri pengajian, atau mengikuti kegiatan persyarikatan. Justru para dai harus bergerak mendatangi komunitas yang membutuhkan pencerahan. Masyarakat pedalaman, komunitas pekerja, masyarakat pesisir, kelompok rentan, masyarakat digital, hingga komunitas yang mengalami keterasingan sosial merupakan ruang dakwah yang harus dijangkau.
Dakwah yang berkemajuan bukan sekadar memperbanyak jamaah yang datang, melainkan memperluas kehadiran Islam dalam kehidupan masyarakat.
Dakwah Melalui Sirah: Keteladanan Lebih Kuat daripada Retorika
Strategi kedua yang dikemukakan Ustaz Fajri adalah dakwah melalui sirah. Perjalanan hidup Rasulullah SAW merupakan sumber pembelajaran tentang bagaimana Islam disampaikan melalui keteladanan. Rasulullah SAW tidak hanya menyampaikan pesan-pesan normatif, tetapi menghadirkan Islam dalam perilaku kehidupan. Kejujuran dalam berdagang, kepedulian kepada kaum lemah, penghormatan terhadap sesama, dan kemampuan membangun kepercayaan sosial merupakan bagian penting dari keberhasilan dakwah beliau.
Dalam konteks dakwah komunitas, pemikiran ini memberikan kritik terhadap kecenderungan dakwah yang terlalu mengandalkan retorika. Masyarakat tidak hanya membutuhkan dai yang pandai berbicara, tetapi juga dai yang mampu memberikan contoh kehidupan.
Ketika seorang dai berbicara tentang kebersihan, masyarakat harus melihat keteladanannya dalam menjaga lingkungan. Ketika berbicara tentang keadilan, masyarakat harus merasakan keberpihakannya kepada kelompok lemah. Ketika berbicara tentang persaudaraan, masyarakat harus menyaksikan kemampuannya membangun harmoni. Di sinilah dakwah melalui sirah menemukan relevansinya sebagai dakwah keteladanan, bukan sekadar dakwah verbal.
Utusan Khusus: Dakwah Memerlukan Kompetensi dan Spesialisasi
Strategi ketiga menurut Ustaz Fajri adalah pengutusan sahabat untuk melaksanakan misi-misi khusus. Rasulullah SAW memahami bahwa setiap komunitas memiliki karakteristik, kebutuhan, dan persoalan yang berbeda. Karena itu, pengutusan sahabat dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan dan kebutuhan masyarakat yang menjadi sasaran dakwah.
Pengutusan Mu’adz bin Jabal ke Yaman menjadi salah satu contoh bagaimana tugas dakwah dilaksanakan melalui penugasan yang terarah. Dalam konteks kekinian, pemikiran ini memberikan inspirasi penting bahwa dakwah komunitas memerlukan spesialisasi. Da’i berpengatahuan khusus tentang pertanian, nelayan, UMKM, advokasi, mitigasi bencana, rehabilitas bencana, penanggulangan bencana, philanthropy, kesehatan, pendidikan, kesejahteraan social, konsling.
Dai yang mendampingi masyarakat petani tentu membutuhkan pengetahuan tentang pertanian dan kehidupan pedesaan. Dai yang memasuki komunitas pekerja industri perlu memahami persoalan ketenagakerjaan. Dai yang bergerak dalam komunitas digital harus menguasai teknologi komunikasi dan budaya digital. Demikian pula, dai yang bergerak dalam komunitas lingkungan perlu memahami krisis ekologis, perubahan iklim, serta tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Karena itu, Lembaga Dakwah Komunitas Muhammadiyah perlu terus mengembangkan model dai berbasis kompetensi, dai berbasis komunitas, dan dai berbasis kebutuhan sosial. Keberhasilan dakwah tidak cukup diukur dari banyaknya ceramah yang disampaikan, tetapi juga dari kemampuan menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Kegiatan Publik: Dakwah Harus Hadir di Tengah Kehidupan
Strategi keempat yang disampaikan Ustaz Fajri adalah dakwah melalui kegiatan publik. Dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW, ruang-ruang pertemuan masyarakat menjadi sarana penting untuk memperkenalkan Islam dan membangun komunikasi sosial.
Pesan yang dapat ditarik dari strategi ini adalah bahwa dakwah harus hadir dalam ruang kehidupan masyarakat yang luas. Kemah Dakwah Muhammadiyah Kabupaten Bogor merupakan salah satu contoh aktualisasi pendekatan tersebut.
Kegiatan yang dilaksanakan di kawasan Gunung Bunder bukan hanya mempertemukan para aktivis dakwah dalam forum pengajian, tetapi juga menghadirkan pengalaman kebersamaan, pembelajaran sosial, dan interaksi langsung dengan lingkungan alam.
Kegiatan publik seperti kemah dakwah dapat dikembangkan menjadi gerakan yang lebih produktif melalui pelayanan kesehatan, pendidikan masyarakat, pemberdayaan ekonomi, konservasi lingkungan, dan penguatan solidaritas sosial. Dalam perspektif ini, dakwah tidak lagi dipahami semata-mata sebagai aktivitas menyampaikan ajaran agama, tetapi juga sebagai proses membangun peradaban.
Wasathiyah: Dakwah yang Merangkul dan Mencerahkan
Strategi kelima yang dikemukakan Ustaz Fajri adalah membangun kehidupan yang wasathiyah. Prinsip wasathiyah merupakan salah satu karakter fundamental ajaran Islam, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 143 tentang ummatan wasathan.
Wasathiyah bukan berarti kehilangan ketegasan dalam beragama, melainkan menempatkan ajaran Islam dalam kerangka keadilan, keseimbangan, kebijaksanaan, dan kemaslahatan. Dalam masyarakat yang semakin beragam, pendekatan dakwah wasathiyah menjadi sangat penting. Umar sangat murka terhadap anak muda yang berzikir di masjid di saat harus bekerja untuk mencari nafkah. Demikian juga sebaliknya, sangat tegas terhadap kemungkaran, tukas ustad fajri yang klinis dan baby face.
Dakwah harus mampu membangun dialog, bukan memperbesar pertentangan. Dakwah harus menghadirkan solusi, bukan menambah persoalan. Dakwah harus memperkuat persaudaraan, bukan mempertajam perbedaan. Muhammadiyah dengan karakter Islam Berkemajuan memiliki modal teologis, historis, dan organisatoris untuk mengembangkan pendekatan dakwah yang moderat, inklusif, dan transformatif.
Dari Lima Strategi Menuju Transformasi Dakwah Komunitas
Bagi saya, pemikiran Ustaz Fajri dalam Kemah Dakwah Muhammadiyah Kabupaten Bogor memberikan pelajaran yang sangat penting. Kelima strategi tersebut tidak boleh berhenti sebagai romantisme sejarah perjalanan dakwah Rasulullah SAW dan para sahabat. Justru harus menjadi inspirasi untuk melakukan pembaruan metodologi dakwah Muhammadiyah.
Diaspora sahabat mengajarkan pentingnya perluasan jangkauan dakwah. Sirah mengajarkan kekuatan keteladanan. Pengutusan khusus menegaskan perlunya kompetensi dai. Kegiatan publik menunjukkan pentingnya keterlibatan sosial. Sementara wasathiyah memberikan landasan moral agar dakwah selalu menghadirkan kedamaian dan kemaslahatan.
Kelima pendekatan tersebut dapat diintegrasikan dalam gerakan dakwah komunitas yang tidak hanya memperkuat akidah dan ibadah, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi, kepedulian sosial, kecerdasan masyarakat, dan tanggung jawab ekologis.
Dalam konteks krisis lingkungan yang semakin mengkhawatirkan, dakwah komunitas juga perlu mengembangkan kesadaran ekologis sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai Islam. Teologi Al-Infithar, misalnya, dapat menjadi inspirasi spiritual untuk mengingatkan manusia tentang keterbatasan kehidupan dunia, pertanggungjawaban akhirat, dan pentingnya menjaga amanah Allah dalam memelihara bumi.
Dengan demikian, dakwah tidak hanya menghubungkan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga memperbaiki hubungan manusia dengan sesama dan dengan alam semesta.
Dakwah yang Bergerak, Membumi, dan Berkemajuan
Kajian Ustaz Fajri di Gunung Bunder memberikan pesan yang patut direnungkan oleh seluruh penggerak dakwah Muhammadiyah.
Sejarah dakwah Rasulullah SAW dan para sahabat menunjukkan bahwa keberhasilan dakwah tidak hanya ditentukan oleh kekuatan pesan, tetapi juga oleh ketepatan strategi, kualitas keteladanan, kemampuan membaca kebutuhan masyarakat, dan keluasan jangkauan sosial.
Kemah Dakwah Muhammadiyah Kabupaten Bogor seyogianya menjadi momentum untuk memperkuat komitmen tersebut.
Kita membutuhkan dai yang tidak hanya fasih menyampaikan dalil, tetapi juga memahami realitas sosial. Dai yang tidak hanya hadir di mimbar, tetapi juga bekerja bersama masyarakat. Dai yang tidak hanya mengajak kepada kesalehan individual, tetapi juga membangun kesalehan sosial dan ekologis.
Dakwah Rasulullah adalah dakwah yang bergerak, menyentuh kehidupan, membangun manusia, dan mentransformasikan peradaban. Inilah semangat yang perlu terus dihidupkan dalam dakwah komunitas Muhammadiyah: dakwah yang melintasi batas geografis, merangkul keragaman sosial, menghadirkan keteladanan, dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh kehidupan.
