BOGOR — Dr. Suhardin, S.Ag., M.Pd., Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (LPLH&SDA) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat sekaligus Sekretaris Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, memberikan arahan tentang pentingnya pengembangan Teologi Al-Infithar sebagai landasan spiritual dakwah ekologis dalam kegiatan Kemah Dakwah Komunitas yang diselenggarakan LDK bersama Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bogor di Situhiang, Pamijahan, kawasan Gunung Salak Endah, Bogor.
Dalam arahannya, Dr. Suhardin menekankan bahwa Surah Al-Infithar mengandung pesan teologis yang sangat relevan dengan krisis ekologis kontemporer. Gambaran langit terbelah, bintang-bintang berjatuhan, dan lautan meluap sebagaimana disebutkan dalam ayat 1–3 merupakan peringatan eskatologis tentang keterbatasan alam semesta sekaligus mengajak manusia merefleksikan tanggung jawabnya terhadap kelestarian bumi.
Teologi Al-Infithar perlu dikembangkan menjadi kesadaran ekologis yang menghubungkan keimanan, tanggung jawab moral, dan tindakan nyata dalam menjaga lingkungan. Kerusakan hutan, pencemaran sungai, perubahan iklim, serta berbagai bentuk eksploitasi sumber daya alam harus menjadi perhatian gerakan dakwah Muhammadiyah.
Menurutnya, dakwah komunitas tidak cukup hanya membangun kesalehan individual, tetapi juga harus melahirkan kesalehan sosial dan ekologis. Masjid, sekolah, pesantren, dan komunitas masyarakat perlu menjadi pusat pendidikan lingkungan, konservasi alam, pengelolaan sampah, penghijauan, dan penguatan ketahanan iklim berbasis masyarakat.
Kemah Dakwah di kaki Gunung Salak ini menjadi momentum untuk mengintegrasikan tauhid, tadabbur alam, akhlak ekologis, dan aksi pelestarian lingkungan dalam gerakan dakwah komunitas yang menggembirakan, mencerahkan, dan memberdayakan.
Melalui kegiatan tersebut, Dr. Suhardin mendorong agar kader dakwah Muhammadiyah tidak hanya menjadi penyampai pesan agama, tetapi juga menjadi penggerak perubahan sosial dan penjaga kelestarian alam.
“Dakwah berkemajuan harus mampu menghubungkan kesadaran akhirat dengan tanggung jawab menjaga bumi. Sebab memuliakan lingkungan merupakan bagian dari pengamalan iman dan amanah kekhalifahan manusia,” demikian pesan utama yang ditekankan dalam arahannya.
Dari kawasan Gunung Salak Endah, semangat dakwah ekologis Muhammadiyah diharapkan berkembang menjadi gerakan nyata untuk menghadirkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi manusia dan seluruh alam semesta.
