Jakarta, 9 Juni 2026 – Pengurus Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (LPLH SDA) Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar Rapat Siaga Bumi dan Pemuka Agama bersama Prof. Dr. Din Syamsuddin, M.A. Pertemuan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas agama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan mendorong gerakan penyelamatan bumi berbasis nilai-nilai keagamaan.
Rapat tersebut membahas penguatan inisiatif “Siaga Bumi”, sebuah gerakan yang menempatkan para pemuka agama sebagai agen perubahan dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan hidup. Gagasan ini sejalan dengan pandangan bahwa krisis iklim bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga persoalan moral, spiritual, dan kemanusiaan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen bangsa.
Dalam diskusi, para peserta menegaskan bahwa rumah ibadah dan tokoh agama memiliki posisi strategis untuk mengedukasi masyarakat mengenai gaya hidup yang ramah lingkungan, pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, serta tanggung jawab bersama dalam menjaga ciptaan Allah SWT. Pendekatan berbasis nilai agama diyakini mampu memperkuat perubahan perilaku masyarakat secara nyata.
Pertemuan ini juga menjadi bagian dari upaya LPLH SDA MUI untuk memperluas sinergi berbagai gerakan lingkungan yang telah dikembangkan, termasuk penguatan dakwah lingkungan dan implementasi program-program pemuliaan lingkungan hidup di Indonesia. LPLH SDA MUI sendiri memiliki mandat untuk mengembangkan dakwah yang mengintegrasikan nilai keimanan dengan ilmu pengetahuan dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup serta sumber daya alam.
Melalui Rapat Siaga Bumi ini, diharapkan lahir langkah-langkah konkret yang melibatkan para pemuka agama, organisasi masyarakat, lembaga pendidikan, dan komunitas dalam membangun budaya peduli lingkungan. Kolaborasi tersebut menjadi fondasi penting untuk menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadaban bagi generasi mendatang.
Dalam semangat khalifah fil ardh (manusia sebagai penjaga bumi), seluruh pihak diajak untuk menjadikan pelestarian lingkungan sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab bersama. Kolaborasi antara ulama, tokoh agama, akademisi, pemerintah, dan masyarakat diharapkan mampu melahirkan gerakan yang berkelanjutan demi mewariskan bumi yang lebih baik kepada generasi mendatang.
